Kamis, 01 September 2011

Kejadian yang berhubungan dengan perang dingin

Perang Saudara Kamboja adalah konflik yang terjadi antara tentara Partai Komunis Kampuchea dan sekutu mereka Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara) dan Front Nasional Pembebasan Vietnam Selatan melawan pemerintah Kamboja yang didukung ole Amerika Serikat dan Republik Vietnam (Vietnam Selatan).


Perang Saudara Angola dimulai di Angola setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan Angola dari Portugal tahun 1975. Perang ini berubah menjadi konflik Perang Dingin, antara dua faksi Angola, faksi Komunis yang didukung Uni Soviet dan anti-Komunis yang didukung oleh Amerika Serikat.


Perang Saudara Yunani (bahasa Yunani: ο Eμφύλιος [Πόλεμος], "Perang Saudara") (1946-1949) adalah perang antara pasukan pemerintah Yunani, yang didukung oleh Britania Raya, Amerika Serikat, dan Tentara Demokratik Yunani, cabang militer dari Partai Komunis Yunani (KKE).
Ini adalah hasil dari perjuangan yang sangat terpolarisasi antara kaum kiri dan kanan yang mulai dari tahun 1943 dan ditargetkan kekosongan kekuasaan pendudukan Jerman-Italia selama Perang Dunia II.
Salah satu konflik pertama Perang Dingin, menurut beberapa analis ini merupakan contoh pertama pascaperang campur tangan Barat dalam politik internal negara asing.

  • Tahapan Perang
Tahap pertama perang sipil terjadi pada 1942-1944, selama Pendudukan. Dengan pemerintah Yunani dalam pengasingan tidak mampu untuk memengaruhi situasi, berbagai kelompok perlawanan afiliasi politik yang berbeda muncul, salah satunya yang dominan kiri Front Pembebasan Nasional (EAM), dikontrol secara efektif oleh Komunis. Dimulai pada musim gugur 1943, gesekan antara EAM dan kelompok-kelompok perlawanan lain yang tersebar mengakibatkan bentrokan, yang berlanjut sampai musim semi tahun 1944, ketika sebuah kesepakatan dicapai untuk membentuk pemerintah persatuan nasional yang meliputi enam menteri EAM.
Tahap kedua terjadi pada Desember 1944, setelah negeri itu telah dibebaskan. EAM, militer menguasai sebagian besar dari Yunani, menghadapi pemerintah yang didukung Inggris, dan mencoba untuk merebut kendali atas ibukota Athena. Kekalahan pasukan EAM merupakan akhir dari kekuasaan: ELAS dilucuti, dan EAM terus sebagai tindakan politik sebagai organisasi multi-partai. Namun ketegangan tetap tinggi, seperti bentrokan antara kanan dan faksi sayap kiri terus.
Tahap ketiga (1946-1949), pasukan gerilya dikontrol oleh KKE, politik dan memiliki cadangan logistik yang baru didirikan oleh Sosialis utara Serikat (Albania, Yugoslavia, Bulgaria dan Uni Soviet) berperang melawan pemerintah yang diakui secara internasional Yunani yang dibentuk setelah pemilihan yang diboikot oleh KKE. Meskipun kegagalan awal oleh pasukan pemerintah dari 1946 hingga 1948, peningkatan bantuan Amerika, kurangnya jumlah merekrut yang tinggi kepada jajaran DSE dan efek samping dari Tito-Stalin, menyebabkan kekalahan mereka.
Kemenangan akhir-Barat yang didukung pasukan pemerintah menyebabkan keanggotaan Yunani di NATO, dan membantu untuk menentukan keseimbangan kekuasaan ideologis di Laut Aegea sepanjang Perang Dingin. Perang saudara juga meninggalkan Yunani dengan keras pembentukan keamanan anti-Komunis, yang akan mengarah pada pembentukan sebuah rezim militer, dan warisan polarisasi politik yang berlangsung hingga tahun 1980-an.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Saudara_Yunani


Krisis Kongo

Kabila dalam lingkungan anggota masyarakat Luba di Jadotville (sekarang dikenal Likasi) di Kongo Belgia, provinsi Katanga. Ayahnya berasal dari golongan Luba, sedang ibunya dari golongan masyarakat Lunda. Kabila belajar filsafat politik di Perancis dan Universitas Dar es Salaam di Tanzania.

Bersekutu dengan Patrice Lumumba pada kemerdekaan Kongo, ia memberontak melawan negara saat Lumumba dijatuhkan dan dibunuh, berjuang dalam perang saudara melawan pemerintahan pada 1964-1965. Saat pemberontakan itu dipadamkan pasukan Kongo di bawah Joseph Mobutu, Kabila mendirikan Partai Revolusioner Rakyat (PRP), dan tinggal selama 1,5 dasawarsa di negara bagian Kivu Selatan.

Ia menghabiskan hampir seluruh tahun 1980-an dan awal 1990-an menjalankan toko perdagangan umum di ibukota Tanzania Dar es Salaam namun di akhir 1996 Kabila memanfaatkan kekacauan di Rwanda dan Burundi, dan pengaruhnya yang merembet di daerah tetangganya, Kivu Selatan, untuk membangun pasukan yang cukup besar untuk menjatuhkan Mobutu. Ia menyebutnya Aliansi Angkatan Demokrasi untuk Pembebasan Kongo-Zaire (ADFL), pasukan yang tersusun dari anggota etnis Tutsi dari Rwanda, Kivu dan Uganda dan juga sisa-sisa pasukan anti-Mobutu. Pasukan ini bergerak pada kecepatan luar biasa dan hampir tidak menemui hambatan apapun. Yang sering terjadi, pasukan Zaire melarikan diri sementara dukungan Mobutu berguguran di sekelilingnya.

Kabila menjadi Presiden Zaire di bulan Mei 1997, mengubah nama negara menjadi Republik Demokratik Kongo. Namun apa yang seperti era kemakmuran baru untuk negara itu segera hancur karena Kabila mengambil langkah aneh dengan meninggalkan mitra-mitra ADFL-nya dan menyokong musuh Hutu mereka. Ini memancing perang saudara yang membawa-bawa pasukan Zimbabwe, Angola dan Namibia dan akhirnya menyebabkan kematiannya sendiri pada Januari 2001.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Laurent-D%C3%A9sir%C3%A9_Kabila

Runtuhnya Tembok Berlin
Orang Jerman berdiri di atas tembok ini, tahun 1989, tembok ini akan dihancurkan beberapa hari kemudian setelahnya.
Tembok Berlin di Gerbang Brandenburg, 10 November 1989
Orang ber-Juggling di Tembok Berlin tanggal 16 November 1989
"Mauerspecht" (November 1989)
Setelah memperbolehkan celah bagi para penduduknya untuk melewati perbatasan di musim panas, Hungaria akhirnya secara efektif menghilangkan pembatas fisik negaranya dengan Austria tanggal 19 Agustus 1989. Di bulan September, lebih dari 13.000 orang Jerman Timur kabur ke Austria melalui Hungaria. Hal ini menyebabkan beberapa rentetan kejadian berikutnya. Orang Hungaria mencegah agar tidak semakin banyak orang Jerman Timur yang menyebrang perbatasan, dan mengembalikan mereka ke Budapest. Orang-orang Jerman Timur ini memenuhi kedutaan Jerman Barat dan menolak untuk kembali ke Jerman Timur. Pemerintah Jerman Timur menanggapi hal ini dengan menutup semua perjalanan ke Hungaria, tapi masih memperbolehkan mereka yang mau kembali ke Jerman Timur. Pada kesempatan kali ini, otoritas Jerman Timur memperbolehkan mereka untuk pergi, asalkan saja nanti kereta yang mereka pakai melewati Jerman Timur. Maka muncullah demonstrasi besar-besaran di Jerman Timur sendiri. (Lihat Demonstrasi Senin di Jerman Timur.) Pemimpin Jerman Timur, Erich Honecker, mengundurkan diri tanggal 18 Oktober 1989 dan digantikan oleh Egon Krenz beberapa hari kemudian. Honecker telah memprediksi bahwa tembok itu masih akan bertahan sampai 50 atau 100 tahun lagi, jika kondisi negara itu tidak berubah.
Protes demonstrasi pecah di seluruh Jerman Timur bulan September 1989. Pada awalnya, para pemrotes ingin pergi menuju ke barat, sambil meneriakkan "Wir wollen raus!" ("Kami mau pergi!"). Tapi lalu para pemrotes mulai berteriak "Wir bleiben hier", ("Kami akan tetap di sini!"). Maka, ini adalah awal dari apa yang disebut orang Jerman Timur sebagai "Revolusi Damai" di akhir 1989. Para pemrotes semakin besar di awal November. Para pemrotes mencapai puncaknya pada tanggal 4 November, ketika hampir setengah juta orang berkumpul di Demonstrasi Alexanderplatz. (Henslin, 07)
Sementara itu, para pengungsi yang meninggalkan Jerman Timur ke Jerman Barat semakin meningkat, dan mereka menemukan jalan baru untuk keluar dari Jerman Timur, yaitu dengan cara melalui Hungaria via Cekoslowakia (atau via Kedutaan Jerman Barat di Prague) yang diizinkan oleh pemerintahan Krenz yang baru, dan dengan persetujuan dengan pemerintah komunis Cekoslowakia. Agar keadaan tidak semakin rumit, akhirnya politbiro yang dipimpin oleh Krenz memperbolehkan para pengungsi untuk keluar langsung melalui pintu perbatasan antara Jerman Timur dan Jerman Barat, termasuk Berlin Barat pada tanggal 9 November 1989.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tembok_Berlin

Revolusi Hongaria 1956 adalah suatu pemberontakan dalam lingkup nasional yang terjadi secara spontan terhadap pemerintah komunis Hongaria yang didukung Uni Soviet, yang berlangsung antara 23 Oktober sampai 10 November 1956. Peristiwa ini diawali dengan suatu demonstrasi pelajar yang berhasil menarik ribuan massa sewaktu berbaris melalui pusat kota Budapest menuju Gedung Parlemen Hongaria. Seorang utusan pelajar ditangkap ketika mencoba memasuki gedung Radio Hongaria untuk menyiarkan tuntutan mereka. Sewaktu para demonstran menuntut untuk melepaskan tawanan itu, mereka malah ditembaki oleh Otoritas Perlindungan Negara (Bahasa Hongaria: Államvédelmi Hatóság atau ÁVH). Berita ini menyebar luas dan menyebabkan meletusnya kekacauan serta kekerasan di seluruh wilayah ibu kota.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Hongaria

Krisis Iran tahun 1946 terjadi akibat penolakan Uni Soviet untuk mundur dari wilayah Iran yang diduduki Tentara Merah sejak 25 Agustus 1941. Setelah invasi Jerman ke Uni Soviet pada Juni 1941, Britania Raya dan Uni Soviet menduduki Iran sebagai pencegahan. Tujuan lain yang tidak secara umum dinyatakan, adalah diperlukannya wilayah Iran sebagai gerbang pengiriman perjanjian sewa pakai terhadap Uni Soviet. Shah diturunkan dan dibuang ke Mauritius. Putranya, Mohammad Reza Pahlavi, menjadi raja baru. Iran juga digunakan Britania Raya dan Amerika Serikat sebagai jalur persediaan untuk Uni Soviet.
Pendudukan Iran dijadwalkan berakhir setelah Jerman menyerah, tetapi ketika perang berakhir tahun 1945, pemimpin Soviet Joseph Stalin menolak mundur dari Iran. Ia juga berusaha membagi Iran dan mendirikan dua "Republik Rakyat Demokratik" di Iran, yaitu Republik Rakyat Azerbaijan yang dikepalai oleh Sayyid Jafar Pishevari dan Republik Mahabad dibawah Pesheva Qazi Muhammad.
Dibawah tekanan Amerika Serikat, Uni Soviet terpaksa mundur dari Iran. Iran menduduki kembali Mahabad dan Azerbaijan. Pemimpin Azerbaijan di Iran melarikan diri ke Republik Soviet Sosialis Azerbaijan, dan pemimpin Republik Mahabad dihukum mati.
Konflik ini merupakan salah satu peristiwa pertama Perang Dingin dan merupakan salah satu faktor meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Krisis_Iran_1946

Krisis Rudal Kuba adalah sebuah krisis yang terjadi antara tahun 1962 yang terjadi sebagai akibat dari Perang Dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Krisis ini terjadi setelah terungkap fakta bahwa Amerika Serikat telah mensponsori sebuah serangan ke Teluk Babi milik Kuba, sebuah negara komunis di Laut Karibia. Meskipun gagal, penyerbuan ini telah menimbulkan kemarahan Uni Soviet, sebagai pemimpin komunis dunia, maupun rakyat Kuba sendiri.
Pada bulan September 1962, Nikita Khruschev, Perdana Menteri Uni Soviet, menyatakan kepada Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy bahwa setiap serangan berikutnya terhadap Kuba akan dinilai sebagai tindakan perang. Tidak lama kemudian, Uni Soviet segera menempatkan rudal-rudal berukuran sedang yang dilengkapi dengan hulu ledak nuklir di Kuba. Rudal-rudal tersebut mengancam AS karena kemampuan merusaknya yang dapat menghancurkan sebuah kota besar dalam waktu singkat setelah diluncurkan. Pada tanggal 22 Oktober 1962, Kennedy muncul di muka publik dan menuntut Uni Soviet untuk menarik rudal-rudalnya atau AS akan menyerang Kuba. Maka, dimulailah minggu-minggu yang dikenal dengan sebutan Krisis Rudal Kuba ini.
Negosiasi di antara dua musuh bebuyutan ini terjadi dengan alot karena kedua belah pihak merasa siap untuk berperang dan tidak mau mengurangi tuntutannya. Kapal-kapal perang Amerika mengepung Kuba untuk memaksakan sebuah "karantina" terhadap semua pelayaran milik kuba; pesawat-pesawat pengebom mencari posisi di Florida dan bersiaga menghadapi serangan udara. Untungnya, pada tanggal 28 Oktober 1962, Khruschev menyatakan bahwa Uni Soviet bersedia memindahkan nuklirnya asalkan AS berjanji tidak akan menyerbu Kuba.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Krisis_Rudal_Kuba

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar