Kamis, 22 September 2011

Aspek Nasionalisme

1. Aspek Ekonomi
Pertentangan kepentingan menyebabkan kondisi hidup rakyat terbelakang, karena cara-cara produksi lama tidak mampu menghadapi kapitalisme colonial yang mempunyai organisasi dan teknologi moderen yang mampu mengubah keadan ekonomi yang ada. Kedudukan yang menguntungkan penjajah itu diperoleh melalui eksploitasi dan diskriminasi. Oleh karena itu, usaha-usaha ke arah itu, usaha-usaha ke arah emansipasi ekonomi selalu ditekan. Semua pengalaman yang mengecewakan sebagai akibat system sosial-ekonomi yang menghalangi usaha perekonomian bangsa Indonesia, mendorong timbulnya solidaritas. Dalam kongres-kongres SI (Sjarikat Islam) mereka melancarkan kritik-kritik pedas terhadap situasi sosial-ekonomi yang menyedihkan: upah yang sangat rendah, kerja paksa, pajak tanah, tanah partikelir, industri gula, dsb. Sejak kejadian itu, perjuangan ekonomi memperlihatkan sifatnya sebagai gerakan massa, sehingga oleh karenaya menstimulasi pengaruh pada pergerakan politik. Gerakan ekonomi ini sejak pada PD I terus-menerus tumbuh sampai pada puncaknya pada pemberontakan komunis tahun 1926. Tindakan-tindakan yang keras dari pihak pemerintah kolonial memperkuat orientasi ekonomi pada beberapa organisasi, seperti Boedi Oetomo dan Partai Bangsa Indonesia. pekerjaan kontruktif dari partai-partai itu pada bidang ekonomi, meskipun belum begitu berarti, telah memberi bentuk-bentuk konkret kepada cita-cita ekonomi nasional dan dapat dianggap sebagai suatu bukti yang nyata adanya prinsip berdiri di atas kaki sendiri.
2. Aspek Sosial
Pembentukan organisasi-organisasi nasionalis didorong oleh pertentangan kepentingan social dengan kaum penjajah; karena perbedaan rasial pertentangan ini menjadi lebih serius. Organisasi itu fungsinya menjadi lebih nyata dan menunjukan perbedaan kepentingan-kepentingan tersebut secara lebih jelas; jadi, organisasi-organisasi itu boleh dikatakan meratakan jalan untuk membangun suatu kekuatan sosial. Akibat berdirinya Boedi Oetomo bagi penguasa peguasa tradisional pribumi, yaitu ellite lama, adalah negative oleh karena itu, organisasi ini tumbuhnya lambat. Sebagai reaksi terhadap keinginan emansipasi di antara massa rakyat yag luas, golongan elite lama ini kemudian membentuk ikatan sendiri. Perkumpulan bupati, yang memperjuangkan kepentingan kepentingan mereka sendiri dengan cara-caranya sendiri. Tumbuhnya diferensisasi sosial menyebabkan jumlah organisasi-organisasi nasionalis bertambah dengan bermacam-macam tujuan untuk melindungi kepentingan mereka masing-masing sambil berdialog menentang kolonialisme. Aspek sosial lain dari pergerakan nasional yang perlu mendapat perhatian kita ialah peranan diferensiasi di antara organisasi-organisasi nasionalis itu. Pada umumnya peranan yang dijalankan oleh organisasi organisasi itu memang dipilh dan dilakukan dengan penuh kesadaran. Boedi Oetomo diikuti oleh organisasi-organisasi berikutnya, seperti Muhammadiyah dan Taman Siswa. Terutama Taman Siswa dapat dianggap sebagai sebuah lembaga dengan system pendidikan yang menjadi bagian dari pergerakan nasional yang memperjuangkan masayarakat merdeka. Cita-cita kebebasan dan kesatuan dipakai sebagai pedoman pendidikan praktis. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan nasional adalah cara yang sebaik-baiknya untuk berkerja secara produktif untuk mencapai kemerdekaan rakyat. Kebudayaan asli dipakai sebagai dasar pokoknya.
3. Aspek-Aspek Kebudayaan
Nasionallisme Indonesia pada tingkat-tingkat pertama juga dikenal sebgai nasionalisme sempit, yang bersifat lokal atau kedaerahan. Nama-nama seperti Serekat Ambon Roekon Minahasa, Pasoendan, Sarekat Soematera menunjukan sifat kedaerahan dan kesukuan. Pada kongres kaum muda Jawa, yaitu pada waktu Boedi Oetomo didirikan, diadakan, diskusi untuk menentukan sikap yang harus diambil dan untuk menghadapai kebudayaan barat. Pada diskusi ini terdapat dua pandangan yang berbeda: golongan pertama ingin agar orang jawa sic mengembangkan dirinya menurut jalannya sendiri dan tetap memilihara sifat ketimurannya, sedang golongan yang kedua menganggap contoh dari barat lebih praktis. Jadi, sudah sepantasnya untuk diikuti. Pada tahun 1908 sekali pertentangan yang terjadi pada kongeres boedi oetomo itu timbul. Golongan konservatif berpendapat bahwa kebudayan lama harus menjadi dasar untuk menghimpun seluruh rakyat, sedang golongan progresif tidak menghendaki kemunduran dan meolak sifat-sifat khusus kejawaan. Mereka ingin melawan barat dengan alat-alat dan metode barat pula. Mereka menekankan usaha mendinamikakan kehidupan kebudayaan dengan persatuan dan pertukaran. Mereka berpendapat bahwa sikap statis berarti kemunduran. Gerakan kebudayaan memperkuat kedaran nasional dan merupakan tambahan bagi gerakan ekonomi yang mencita- citakan kehudpan ekonomi yang bebas bagi rakyat. Pergerakan nasional inin membangun kebudayaan baru sebagai basis kehidupan baru dengan mengambil alih unsur-unsur barat. Pembaharuan ini dianggap sebagai alat untuk mewujudkan cita- cita politik, oleh karena itu dalam mengahadapi kebudayaan barat kaum nasiionalis menolak ide asimilasi dalam rangka negeri belanda raya.
4. Aspek Aspek Politik
Pergerakan nasional sebagai bentuk revivalisme dalam hubungan-hubungan masyarakat kolonial sudah tentu mengalami politikalisasi, dan bahkan sejak taraf pertamanya pergerakan itu sudah jelas menunjukan orientasi politik umum. Di tanah jajahan kepentingan ekonomi dan politik terjalin erat antara satu dengan lainnya: dominasi politik melindungi erat monopoli ekonomi modal kolonial dan menggunakan pemerintahan kolonial sebagai alat kekuasaan. Sejak itu disadari bahawa kekuasaan poltik diperlukan untuk memkasa pemerintah kolonial memperlihatkan kesejahteraan rakyat. Aspriasi politik, meskipun belum jelas formulasinya, telah tampak pada waktu itu Boedi Oetomo didirikan. Dengan perkataan lain dapat dinyatakan lain dapat dinyatakan bahwa organisasi ini menghendaki turut ambil bagian dalam mengatur penghidupan rakyat dan memperbaiki nasibnya. Di sisi lain dengan berdirinya volksraad maka keinginan-keinginan politik dapat disalurkan dengan resmi kepada pemerintah colonial. Pengalaman-pengalaman di dalam volksraad menimbulkan keyakinan bahwa melalui koperasi usaha usaha rakyat tidak akan terlindungi, sehingga golongan nasionalis menganggap sangat perlu menyusun kekuatan rakyat untuk mengambil alih kekuasaan politik. Formulasi tujuan politik ini makin lama juga makin terperinci. Perhimpunan Indonesia, organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia di negeri belanda, membuat analisis yang tepat mengenai hubungan-hubungan kolonial dan mengambil resolusi bahwa pergerakan nasional harus menuju ke Indonesia merdeka, sedang kerja sama dengan kaum penjajah ditolak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar