Kamis, 25 Agustus 2011

Vinaya Made Easy

Vinaya Pitaka

Vinaya adalah peraturan, disiplin, atau tata tertib. Kata vinaya sendiri bearti melenyapkan segala tingkah laku yang menghalangi kemajuan pelaksanaan dhamma.
Pada saat permulaan perkembangan agama Buddha, peraturan untuk pengendalian diri bagi anggota Sangha tidak begitu diperlukan, karena jumlah Bhikku masih sedikit dan mempunyai Savaka (Bhikku) telah melaksanakan dan mengikuti jejak Sang Buddha dan mengetahui dengan baik ajaran Sang Buddha.
Ketika jumlah Bhikku bertambah banyak dan tersebar di mana-mana, peraturan untuk pengendalian diri para Bhikku menajdi lebih diperlukan. Maka dalam rangka pembinaan itu sebagai Raja Dhamma yang bertugas memerintah, Sang Buddha menetapkan peraturan dan hukuman yang disebut Buddhapannati.Buddhapannati dimaksudkan untuk mencegah kelakuan yang salah dan memperingatkan para Bhikku agar pelanggaran yang mungkin dilakukan.
Di samping itu, Sang Buddha sebagai Ayah Sangha menyusun kebiasaan tingkah laku yang baik disebut Abhisamacara. Abhisamacara dimaksudkan untuk mendorong agar para Bhikku bersikap tepat,sebagaimana seorang ayah yang terhormat mendidik anak-anaknya untuk mengikuti tradisi keluarga.
Perpaduan antara Buddhapanannti dengan Abhisamacara disebut Vinaya. Ada beberapa hal yang menyebabkan Sang Buddha menetapkan Vinaya, yaitu:
1.      Untuk tegaknya Sangha
2.      Untuk kebahagiaan Sangha
3.      Untuk pengendalian diri para Bhikku yang belum teguh
4.      Untuk para Bhikku yang berkelakuan baik
5.      Untuk perlindungan diri dari Asvana dalam kehidupan ini
6.      Untuk perlindungan diri dari Asvana yang timbul dalam kehidupan yang akan datang
7.      Untuk membahagiakan mereka yang belum bahagia
8.      Untuk meningkatkatkan mereka yang telah berbahagia
9.      Untuk tegaknya sangha
10.  Untuk manfaat dari Vinaya (Vinaya dapat memberikan manfaat  kepada makhluk-makhluk terbebas dari dukkha, menuju nibbana)
Terdapat dua alasan tambahan:
1.Untuk simpati umat berkeluarga
2.Untuk mematahkan semangat para Bhikku yang berpikiran tidak baik
      Gabungan antara Dhamma dan Vinaya disebut Buddhasasana. Vinaya dan Dhamma merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dhamma tanpa Vinaya mejadi ajaran tanpa permulaan yang dilaksanakan, sebaliknya Vinaya tanpa Dhamma merupakan formalisme kosong.
      Vinaya tidak hanya diartikan sebagai peraturan yang berhubungan dengan keBhikkuan saja, namun ada juga Vinaya untuk umat berkeluarga atau bagi upasaka/upasika.Dalam pengertian sempit, Vinaya berkeluarga adalah Pancasila Buddhis dan sebagai pengertian luas dalam Sigalovada Sutta. Vinaya untuk umat berkeluarga disebut Gihi Vinaya. Yang dimaksud Pancasila Buddhis ialah:
1.      Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami: aku bertekad melatih diri menghindari membunuh makhluk hidup
2.      Addinadana veramani sikkhapadam samadiyami: aku bertekad melatih diri menghindari mencuri
3.      Kamesu micchacara veramani sikkhapadam samadiyami: aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila
4.      Musavada veramani sikkhapadam samadiyami: aku bertekad melatih diri menghindari ucapan tidak benar
5.      Surameraya majjapamadattehena veramani sikkhapadam samadiyami: aku bertekad melatih diri menghindari makanan dan minuman keras yang dapat melemahkan kesadaran.
Antara sial umat berkeluarga dengan sila untuk seorang Bhikku terdapat perbedaan, yaitu:
1.      Sila untuk umat berkeluarga bersifat moral semata dan digolongkan dalam Pakati Sila (sila alamiah), sedangkan sila bagi seorang Bhikku selain bersifat moral, sila untuk Bhikku juga berlaku untuk khusus untuk cara hidupnya dan sila itu digolongkan dalam Pannati-Sila
2.      Hukuman yang diberikan bila terjadi pelanggaran adalah jika untuk umat berkeluarga bersifat moral semata disamping hukum karma, sedangkan bagi seorang Bhikku di samping hukum karma, moral ditambah hukuman dikeluarkan dari Sangha.
Agar pengamalan sila dapat sempurna, para Bhikku sendiri harus melaksanakan Catur Parisuddhi Sila yang terdiri dari:
1.      Patimokkha samvara sila : pengendalian diri pada sila-sila kebhikuan
2.      Indriya samvara sila : pengendalian diri pada alat indera
3.      Ajiva parisuddhi sila : pengendalian diri pada peraturan yan gwajib dilaksanakan para Bhikku
4.      Paccaya sannita sila : pengedalian diri dengan melatih diri dengan melakukan hal-hal yang baik.
      Menurut fungsinya, sila terbagi menjadi tiga yaitu:
1.      Anagariya sila: sila untuk umat berkeluarga yang terdiri pancasila budhis, panditha sila, atthanga sila yang biasanya dilaksanakan pada hari-hari uposatha yaitu tanggal 1,8,15,23 penanggalan bulan
2.      Agavija sila: sila untuk Bhikku yaitu dasa sila, patimokkha sila, dan bodhisattva sila (untuk kaum mahayana)
3.      Samanera-Samaneri sila: sila untuk para samanera dan samaneri yang meliputi dasa sila, sekhiya sila/ silkhakarinaya
Vinaya memiliki pula beberapa aspek yaitu:
1.      Kebutuhan Bhikku
a.       Pakaian jubah
                                                                          i.            Jubah luar (saghati)
                                                                        ii.            Jubah atas (uttarasangha)
                                                                      iii.            Jubah bawah (antaravasaka)
b.      Makanan
c.       Tempat tinggal
d.      obat
2.      Penghormatan
a.       Namaskara: berlutut
b.      Utthana:berdiri dan menyambut
c.       Anjali:merangkapakan kedua tangan di depan dada
d.      Sammicikamma: cara-cara lain yang terpuji
3.      Uposatha
4.      Vassa
5.      Hubungan Bhikku dan umat
Vinaya Pitaka sendiri adalah bagian pertama dari tiga bagian Tripitaka, kitab suci agama Buddha. Bagian ini berisi hal-hal yang berkenaan dengan peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni yang terdiri atas 3 bagian:

1. Sutta Vibhanga

Kitab Sutta Vibhanga berisi peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu dan Bhikkhuni, terdiri dari:
·         Bhikkhu Vibhanga - berisi 227 peraturan yang mencakup 8 jenis pelanggaran, di antaranya terdapat 4 pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang Bhikkhu dari Sangha dan tidak dapat menjadi Bhikkhu lagi seumur hidup. Keempat pelanggaran itu, adalah berhubungan kelamin, mencuri, membunuh atau menganjurkan orang lain bunuh diri, dan membanggakan diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa yang dicapai. Untuk ketujuh jenis pelanggaran yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang bersangkutan. Seluruhnya sama dengan peraturan-peraturan Patimokkha yang diucapkan pada pertemuan.
·         Bhikkhuni Vibhanga - berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya lebih banyak.
      2. Khandaka
 Kitab Khandhaka terbagi atas:
·         Kitab Mahavagga - berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara pentahbisan Bhikkhu; upacara uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru di mana dibacakan Patimokha (peraturan disiplin bagi para Bhikkhu); peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan (vassa); upacara pada akhir vassa (pavarana); peraturan-peraturan mengenai jubah, peralatan, obat-obatan dan makanan; pemberian jubah Kathina setiap tahun; peraturan-peraturan bagi para Bhikkhu yang sakit; peraturan tentang tidur; peraturan tentang bahan jubah; tata cara melaksanakan Sanghakamma (upacara Sangha); dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.
·         Kitab Culavagga - berisi peraturan-peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran; tata cara penerimaan kembali seorang Bhikkhu ke dalam Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya; tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul; berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, pengenaan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya; mengenai perpecahan kelompok-kelompok Bhikkhu; kewajiban-kewajiban guru (acariya) dan calon Bhikkhu (samanera); pengucilan dari upacara pembacaan Patimokkha; pentahbisan dan bimbingan bagi Bhikkhuni; kisah mengenai Pasamuan Agung Pertama di Rajagaha; dan kisah mengenai Pasamuan Agung Kedua di Vesali.
3. Parivara
Kitab Parivara memuat ringkasan dan pengelompokan peraturan-peraturan Vinaya, yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar