Minggu, 21 Agustus 2011

Tri Ratna

Tri Ratna
Arti dari Tri Ratna adalah tiga mustika sesuai dengan yang terpapar dalam Ratanattaya 3 (3 macam mustika), yaitu:
  1. Buddha Ratana: Sang Buddha adalah guru suci junjungan kita, yang telah memberikan ajarannya kepada umat manusia dan para dewa untuk mencapai kebebasan terakhir atau kebahagiaan sejati
  2. Dhamma Ratana: Sang Dhamma adalah ajaran Sang Buddha yang menunjukan umat manusia dan deva ke jalan yang benar, terbebas dari kejahatan, dan membimbing kita untuk mencapai nibbanna.
  3. Sangha Ratana: Sang Sangha adalah persaudaraan Bhikku Suci yang telah mencapai kesucian sebagai pengawal dan pelindung dhamma orang lain untuk ikut melaksanakannya sehingga mencapai nibbana.


Sang Buddha
Sang Buddha adalah pendiri agama Buddha yang mempunyai sembilan kebajikan luhur (Buddha Ratana). Buddha memiliki banyak arti, tetapi arti yang paling umum adalah yang telah sadar. Sembilan macam kebajikan Sang Buddha yang terdapat dalam Buddha Guna Sembilan ( sembilan macam kebajikan sang Buddha) yaitu:
      Itipiso Bhagava: yang maha suci mempunyai kebajikan sebagai berikut:
a)      Araham: manusia suci yang terbebas dari kekotoran batin. Kekotoran batin terdiri dari kebencian, ketidaktahuan, dan keserakahn. Orang sering kali salah mengartikan ketidaktahuan dengan kebodohan. Sebenanya , kebodohan adalah orang yang sudah tahu tindakan tersebut salah tetapi tetap melakukannya, sedangkan ketidaktahuan adalah orang yang tidak tahu tindakan tersebut benar atau tidak dan orang tersebut hanya/ pernah melakukannya. Jadi, sang Buddha telah memiliki pengetahuan tak terbatas.
b)      Samma Sambuddho: manusia yang telah mencapai penerangan dengan kekuatan sendiri.
c)      Vijjacarana Sampano: manusia yang mempunyai pengetahuan sempurna dan melaksanakannya.
d)     Sugato: yang berbahagia
e)      Lokavidu : manusia yang mengetahui dengan sempurna keadaan setiap alam. Menurut Sang Buddha, alam di dunia ini ada 31 alam, yaitu: alam manusia, alam setan, alam hewan, alam raksasa, dll.
f)       Annuttaro Purisadhammasarathi : pembimbing umat manusia yang tiada taranya.
g)      Satta Deva Manussanam: Guru suci junjungan para buddha dan manusia
h)      Buddho: pembangun kebenaran
i)        Bhagava: junjungan
Kesembilan kebajikan di atas diringkas menjadi Tiga Buddha Guna:
a)      Panna Guna: Kebajikan Beliau yang mempunyai kebijaksanaan
b)      Vissudhi Guna: Kebajikan Beliau yang mempunyai kesucian
c)      Karuna Guna: Kebajikan Beliau yang mempunyai kebajikan
Sifat-sifat utama Sang Buddha:
  1. Mahaparidudhi, artinya mahasuci. Kemahasucian Sang Buddha tiada
bandingannya
karena pikiran, ucapan dan perbuatan Sang Buddha selalu suci, tidak ternoda sedikitpun. Ibarat bunga teratai yang tumbuh di lumpur namun tidak pernah ternoda oleh lumpur, demikian pula halnya Sang Buddha yang, walaupun pernah hidup di bumi yang penuh noda, tetap suci dan bersih.
2. Mahapanna, artinya mahabijaksana, mahatahu. Sang Buddha selalu bijaksana dalam pikirannya, perbuatannya dan ucapannya; tidak pernah membuat orang lain tersinggung, sedih dan menderita. Sang Buddha mengetahui keadaan triloka, yakni arupaloka, rupaloka dan karmaloka. Semuanya adalah alam yang berada dalam perputaran roda kelahiran dan kematian.
3. Mahakaruna, artinya maha pengasih dan penyayang, maha belas kasihan terhadap
semua makhluk yang menderita, yang hidup sengsara.
Umat Buddha yang mengagungkan Buddha dengan penuh pengertian harus memiliki dua simbol yang berguna sebagai pengingat tradisi mereka:
1. Buddha-nimitta: representasi dari Buddha, seperti gambar-gambar Buddha atau
stupa (tempat untuk meletakkan relik-relik Buddha). Jelas pengingat ini adalah
seperti bendera kebangsaan sebuah negara.
2. Buddha-guna: kualitas-kualitas yang menyusun simbol batin Buddha, misalnya
mempraktekkan dengan tepat ajaran-Nya. Siapa saja yang bertindak dengan sikap
ini pasti akan menjadi pemenang baik di dalam maupun di luar; ia bebas dari
berbagai musuh seperti godaan dan kematian. 

Buddha sebagai perlindungan pertama mengandung arti bahwa setiap orang memiliki Kebuddhaan dalam dirinya dan setiap orang dapat mencapai apa yang telah dicapai Buddha. Sebagai perlindungan, para Buddha adalah manifesti dari Buddha (Kebuddhaan) yang mengatasi keduniawiaan (Lokuttara).Selain pada Rattanaya, Buddha juga terpapar pada Tisarana: Buddham sarranam gacchami (saya memohon perlindungan pada Sang Buddha). Berlindung pada buddha mengandung arti menjunjung Buddha yang diyakini telah mencapai penerangan sempurna dengan kekuatan sendiri sehingga kita dapat melaksanakan dan mengalami apa yang telah dicapainya.
Ada 3 aspek dari Buddha:
a)      Aspek Fisik, yaitu tubuh merupakan aspek eksternal dari Buddha, disebut Buddha-nimatta atau simbol dari Buddha (hal ini seperti kulit kayu dari sebuah pohon)
b)      Praktik-praktik baik yang dijalankannya, seperti kebajikan, konsentrasi, dan kebijaksanaan yang merupakan aspek aktivitas Buddha. Semua ini disebut dhamma-nimita dari Buddha, simbol-simbol dari kualitas batin Buddha ( hal ini seperti air atau getah kayu)
c)      Vimutti , yaitu bebas dari ketidaktahuan, keinginan, kemeleketan, dan karma; mencapai nibbana.Kualitas tertinggi, sebuah kualitas yang tidak akan ’mati’ (amata-dhamma) (hal ini merupakan inti/galih kayu atau esensi dari Buddha)
Perbandingan yang dilakukan oleh guru-guru bijaksana dari mata lampau untuk memudahkan kita mengerti arti dari berlindung kepada Buddha, yaitu dengan menggunakan istilah Buddha-ratana, menyetarakan buddha deangan sebuah permata. Ada tiga jenis permata, yaitu: permata tiruan, batu permata biasa seperti rubi atau safir, dan berlian dianggap sebagai patung berharga. Aspek-aspek dari buddha bisa dibandingkan dengan tiga jenis permata ini:
·         Menaruh keyakinan pada aspek eksternal (tubuh Buddha atau citra-citra yang dibuat untuk merepresentasikan Buddha) adalah berdandan dengan permata tiruan.
·         Menunjukan hormat pada praktik-praktik yang dijalankan oleh Buddha dengan cara menumbukembangkannya dalam diri kita adalah seperti berdandan dengan rubi atau safir
·         Mencapai kualitas tanpa kematian adalah seperti mengenakan berlian dari ujung kepala hingga jari kaki.
Bukan masalah jenis permata apa yang kita gunakan untuk berdandan, kita tetap lebih baik dibandingkan orang-orang biadab yang kesana-kemari dengan tulang-tulang yang dikalungkan pada lehernya yang terlihat tidak terawat.Tulang-tulang pada contoh di atas mengacu pada tubuh kita, yaitu kemeleketan terhadap tubuh kita yang seolah-olah benar-benar milik kita. Sebagian besar tubuh kita dibuat dari binatang lain ( maksudnya dari daging yang kita makan) siapa pun yang bersikeras menganggap tubuhnya sebagai miliknya, maka dia tidak berbeda dengan orang biadab atau penipu yang pasti akan menerima hukuman yang setimpal dengan kejahatannya.

Tingkat kebuddhaan adalah tingkat pencapaian penerangan sempurna. Menurut tingkat pencapaiannya, Buddha dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
Samma sambuddho
  1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan mahluk lain
  2. Mampu mengajarkan ajaran yang ia peroleh (Dhamma) kepada mahluk lain
  3. Yang diajar tersebut bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya
Pacceka Buddha
  1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan mahluk lain
  2. Tidak mengajarkan ajaran yang ia peroleh kepada mahluk lain secara meluas
  3. Yang diajar tersebut belum mampu mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya.
Savaka Buddha
  1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan karena mendengarkan dan melaksanakan ajaran dari Sammasambuddha
  2. Mampu mengajarkan ajaran yang ia peroleh kepada mahluk lain.
  3. Yang diajar bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya.

Para Buddha pada dasarnya mempunyai tiga prinsip dasar ajaran, yaitu seperti yang tercantum di dalam Dhammapada 183 sebagai berikut:
Sabbapapassa akaranam = tidak melakukan segala bentuk kejahatan
Kusalasupasampada = senantiasa mengembangkan kebajikan
Sacittapariyodapanam = membersihkan batin atau pikiran
Etam buddhana sasanam = inilah ajaran para Buddha
Ajaran Sang Buddha memberikan bimbingan kepada kita untuk membebaskan batin dari kemelekatan kepada hal yang selalu berubah (anicca), yang menimbulkan ketidakpuasan (dukkha); karena semuanya itu tidak mempunyai inti yang kekal, tanpa kepemilikan (anatta). Usaha pembebasan ini dilakukan sesuai dengan kemampuan dan pengertian masing-masing individu.Jadi, ajaran Buddha bukan merupakan paksaan untuk dilaksanakan. Sang Buddha hanya penunjuk jalan pembebasan, sedangkan untuk mencapai tujuan itu tergantung pada upaya masing-masing. Bagi mereka yang tidak ragu-ragu lagi dan dengan semangat yang teguh melaksanakan petunjuk-Nya itu, pasti akan lebih cepat sampai dibandingkan dengan mereka yang masih ragu-ragu dan kurang semangat.Adalah bijaksana bila sebagai umat Buddha, setelah terlahir sebagai manusia janganlah tenggelam di dalam kepuasan sang 'aku'. Di dunia ini kita telah diberi warisan yang sangat berharga oleh para bijaksana. Sungguh bahagia bagi manusia yang bisa menerima ajaran Buddha yang telah dibabarkan di hadapan kita. Mengapa? Karena hadirnya seorang Buddha di alam kehidupan ini adalah sangat jarang. Di dalam Dhammapada 182 disebutkan demikian:
Kiccho manussapatilabho = sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia
Kiccho maccana jivitam = sungguh sulit kehidupan manusia
Kiccho saddhammasavanam = sungguh sulit untuk dapat mendengarkan ajaran benar
Kiccho Buddhanam uppado = sungguh sulit munculnya seorang Buddha
Jadi, manfaatkanlah kehidupan kita sebagai manusia sekarang ini untuk lebih giat lagi mempelajari Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan kepada manusia dan bahkan juga kepada para dewa, adalah demi keuntungan manusia dan para dewa itu sendiri guna mencapai Kebebasan Mutlak (Nibbãna).



 Dhamma
Dhamma adalah kesunyataan atau kebenaran yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh sang Buddha yang menunjukan umat manusia dan para Deva ke jalan yang benar, terbebas dari kejahatan dan membimbing mereka mencapai kebebasan (Nibbana).Dhamma memiliki enam kebajikan (Dhamma Guna), yaitu:
j)       Svakkhato Bhagavata Dhammo: dhamma adalah ajaran Sang Buddha yang sempurna
k)     Sanditthiko: yang dapat ditembus oleh diri sendiri bagi mereka yang mempelajarinya dan mengamalkannya
l)        Akaliko: terbebas dari keadaan dan waktu
m)   Ehipassiko: yang patut mengundang untuk dibuktikan kebenarannya
n)     Opanayiko: yang patut dihayati
o)      Paccatam Veditabho Vinnuhi: yang dapat diselami leh para bijaksana dalam batinnya masing-masing.
Tiga tahapan untuk dapat mengerti dhamma (Dhamma Tiga):
a)      Pariyatti Dhamma: tahap belajar dengan tekun terhadap Dhamma dan Vinaya.Pada tahap ini bisa dilakukan dalam salah satu tiga cara berkut ini:
·         Alagaddupama-pariyatti
Belajar seperti ular berbisa bearti mempelajari kata-kata Buddha tanpa kemudian menerapkannya dalam praktik,tidak memiliki rasa malu berbuat jahat, dan mengabaikan peraturan vihara. Dengan demikian mengakibatkan seseorang seperti kepala ular yang beracun, dipenuhi api keserakahan, kemarahan, dan delusi
·         Nissaranattha-pariyatti
Belajar demi emansipasi artinya mempelajari ajaran Buddha dengan keinginan atas pahala dan kebijaksanaan , dengan perasaan yakin dan penghargaan yang tinggi atas nilainya dan kemudian begitu kita telah mencapai sebuah pemahaman, kita akan membawa pemikiran kita, perkataan kita, dan perbuatan kita selaras dengan ajaran dan penuh rasa hormat serta menghargai ajaran
·         Bhandagarika-pariyatti
belajar untuk menjadi seorang penjaga gudang, yang
berarti pendidikan a la orang-orang yang tidak lagi harus berlatih, yaitu para Arahat.Beberapa Arahat ketika masih awam mendengarkan Dharma secara langsung dari Sang Buddha hanya satu atau dua kali, kemudian mampu mencapai pencapaian tertinggi
b)      Patipatti Dhamma: tahap melaksanakan Dhamma dan Finaya dalam kehidupan sehari-hari
c)      Pativedha Dhamma:tahap penembusan yaitu menganalisa kejadian-kejadian hidup melalui Vippasana bhavana sehingga mencapai kebebasan mutlak
Dhamma sebagai tempat perlindungan kedua, bukanlah kata-kata yang terkandung dalam kitab suci atau konsepsi ajaran dalam batin manusia biasa yang masih dalam alam keduniawian (lokija, mundene) yang masih diliputi atau masih dikuasai oleh kebencian (dosa), dan keserakahan (moha), melainkan empat tingkat kesucian berserta Nibbana yang dicapai pada akhir jalan. Dhamma terbagi menjadi dua bagian, yaitu Paramattha Dhamma dan Pannatti Dhamma.
  1. Paramattha Dhamma = kenyataan tertinggi, ada 4, yaitu citta (kesadaran), cetasika (faktor batin), rupa (materi), dan Nibbana
  2. Pannatti Dhamma = sebutan, konsep, untuk dijadikan panggilan atau sebutan sesuai dengan keinginan manusia.
Paramattha Dhamma terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu Sankhata Dhamma dan Asankhata Dhamma.
  1. Sankhata Dhamma, berarti keadaan yang bersyarat, yaitu:
    • Tertampak dilahirkan / timbulnya (uppado pannayati)
    • Tertampak padamnya (vayo pannayati)
    • Selama masih ada, tertampak perubahan-perubahannya (thitassa annathattan pannayati)
  2. Asankhata Dhamma, berarti sesuatu yang tidak bersyarat, yaitu:
    • Tidak dilahirkan (na uppado pannayati)
    • Tidak termusnah (na vayo pannayati)
    • Ada dan tidak berubah (na thitassa annathattan pannayati)
Dalam ajaran Dhamma terkait empat kesunyataan mulia, yaitu:

1.Kesunyataan Mulia tentang Dukkha

Hidup dalam bentuk apa pun adalah dukkha (penderitaan) :
a.       dilahirkan, usia tua, sakit, mati adalah penderitaan.
b.      berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan.
c.       ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan.
d.      tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan.
e.       masih memiliki lima khanda adalah penderitaan.
Dukkha dapat juga dibagi sebagai berikut :
a.       dukkha-dukkha - ialah penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan tubuh dan bathin, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.
b.      viparinäma-dukkha - merupakan fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia --berdasarkan sifat ketidak-kekalan-- di dalamnya mengandung benih-benih kekecewaan, kekesalan dll.
c.       sankhärä-dukkha - lima khanda adalah penderitaan ; selama masih ada lima khanda tak mungkin terbebas dari sakit fisik.

2.Kesunyataan Mulia tentang asal mula Dukkha

Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram. Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya. Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam. Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya. Dikenal tiga macam tanhä, yaitu :
1.      Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b.suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d.                        rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran
2.      Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya "atma (roh) yang kekal dan terpisah" (attavada).
3.      Vibhavatanhä : kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).

3.Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Dukkha

Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali, karena terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.
a.       Sa-upadisesa-Nibbana = Nibbana masih bersisa. Dengan 'sisa' dimaksud bahwa lima khanda itu masih ada.
b.      An-upadisesa-Nibbana = Setelah meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana, ialah Nibbana tanpa sisa atau juga dinamakan Pari-Nibbana. Sang Arahat telah beralih ke dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Misalnya, kalau api padam, kejurusan mana api itu pergi? jawaban yang tepat : 'tidak tahu' Sebab api itu padam karena kehabisan bahan bakar.

4.Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha

Delapan Jalan Utama (Jalan Utama Beruas Delapan) yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu :
*         Pañña
1.      Pengertian Benar (sammä-ditthi)
2.      Pikiran Benar (sammä-sankappa)
*         Sila
3.      Ucapan Benar (sammä-väcä)
4.      Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
5.      Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
*         Samädhi
6.      Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
7.      Perhatian Benar (sammä-sati)
8.      Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)

Penjelasan Delapan Jalan Utama

Delapan Jalan Utama ini dapat lebih lanjut diperinci sbb. :
1.      Pengertian Benar (sammä-ditthi) menembus arti dari :
a. Empat Kesunyataan Mulia
b.Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
d.                        Hukum Kamma
2.      Pikiran Benar (sammä-sankappa)
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b.Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)
3.      Ucapan Benar (sammä-väcä)
Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b.Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d.                        Ucapan itu tepat pada waktunya
4.      Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
a. Menghindari pembunuhan
b.Menghindari pencurian
c. Menghindari perbuatan asusila
5.      Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
Lima pencaharian salah harus dihindari (M. 117), yaitu :
a. Penipuan
b.Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d.                        Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)
Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan , yaitu :
a. Berdagang alat senjata
b.Berdagang mahluk hidup
c. Berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup)
d.                        Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan
e. Berdagang racun.
6.      Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
a. Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan tidak baik di dalam bathin.
b.Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan tidak baik, yang sudah ada di dalam bathin.
c. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan sehat di dalam bathin.
d.                        Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat unsur-unsur baik dan sehat yang sudah ada di dalam bathin.
7.      Perhatian Benar (sammä-sati)
Sammä-sati ini terdiri dari latihan-latihan Vipassanä-Bhävanä (meditasi untuk memperoleh pandangan terang tentang hidup), yaitu :
a. Käyä-nupassanä = Perenungan terhadap tubuh
b.Vedanä-nupassanä = Perenungan terhadap perasaan.
c. Cittä-nupassanä = Perenungan terhadap kesadaran.
d.                        Dhammä-nupassanä = Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran.
8.      Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Latihan meditasi untuk mencapai Jhäna-Jhäna.

Praktek Dharma berarti bertindak sesuai dengan kata-kata Buddha. Ini bisa dikelompokkan
dalam tiga kategori:
kebajikan: tingkah laku yang tepat, bebas dari sifat buruk dan merugikan dalam
perkataan maupun perbuatan
konsentrasi: maksud dan kesungguhan pikiran, berpusat pada salah satu objek
meditasi, misalnya napas
kebijaksanaan: wawasan dan kehati-hatian sehubungan dengan semua hal yang
berkondisi, misalnya unsur fisik, agregat, dan indria.


Sangha
Sangha terdiri dari dua macam, yaitu:
1.Persaudaraan para Bhikku (Sangha) yang belum mencapai tingkat kesucian (Sammuti Sangha)
2.Persaudaraan para Bhikku (Sangha) yang sudah mencapai tingkat kesucian (Ariya Sangha)
Sangha sebagai pengawal dan pelindung dhamma serta mengajarkan dhamma kepada orang lain untuk ikut melaksanakan Dhamma sampai akhirnya mencapai nibbana
Sembilan macam kebajikan Sangha/ Sembilan Sangha Guna, yaitu:
a.       Suppatipano  Bhagavato Savaka Sangho: Sangha siswa Sang Bhagava yang melaksanakan Dhamma dan Vinaya secara sempurna.
b.      Ujupatipano Bhagavato Savaka Sangho: Sangha siswa Sang Bhagava yang bertindak jujur
c.       Nayapatipano Bhavato Savaka Sangho: Sangha siswa Sang Bhagava yang bertindak di jalan yang benar
d.      Samicipatipano Bhagavato savaka Sangho: Sangha siswa Sang Bhagava yang penuh bertanggung jawab dalam tindakannya
e.       Ahunneyo: Yang patut diberikan persembahan
f.       Pahuneyo: Yang patut diberikan tempat dengan layak
g.      Dakkhineyo: Yang patut dijunjung tinggi
h.      Anjalikaraniyo: Yang patut dihormati
i.        Anuttaram Punnakkhetam Lokassa:merupakan tempat penanaman jasa yang tiada taranya bagi dunia ini.
Sembilan macam kebajikan luhur inilah yang membuat Ariya Sangha patut dipuji oleh umat Buddha
Pada tingkat eksternal, orang-orang yang telah ditabhiskan bisa dikualifikasikan sebagai
simbol dari Sangha. Untuk memenuhi kualifikasi eksternal ini, seseorang harus memenuhi
tiga kriteria:
1. vatthu-sampatti: individu yang hendak ditabhiskan sebagai bhikkhu harus memiliki karakteristik-karakteristik yang tepat yang ditetapkan dalam Vinaya
2. sangha-sampatti: bhikkhu yang berkumpul sebagai saksi penabhisan harus memenuhi kuorum yang sah
3. sima-sampatti: tempat berlangsungnya penabhisan harus memiliki batas-batas yang ditentukan dengan tepat.
Seseorang yang memenuhi kualifikasi-kualifikasi eksternal yang disebutkan di atas harus
bersikap selaras dengan kebajikan batin Sangha:
1. a. caga: melepaskan musuh-musuh eksternal dan internal (kecemasan dan keprihatinan)
b. sila: menjaga perkataan dan perbuatan seseorang dengan tepat.
Memiliki kedua kualitas ini berarti memiliki kualifikasi sebagai manusia.
2. a. hiri: memiliki rasa malu atas pemikiran untuk berbuat jahat, tidak berani melakukan kejahatan di tempat umum atau pribadi
b. ottappa: memiliki rasa takut pada pemikiran akan akibat dari perbuatan jahat.
Jika seorang bhikkhu memiliki kualitas-kualitas ini, maka itu sama seperti kalau dia
didiami oleh makhluk-makhluk dewa.
3. samadhi: menenangkan pikiran sedemikian rupa untuk mencapai jhana tingkat pertama dan mengembangkannya hingga ke tingkat ke-empat, membuat pikiran bercahaya dan bebas dari rintangan mental.
Jika seorang bhikkhu melakukan hal ini, maka itu sama seperti kalau dia didiami oleh
Brahma karena dia memiliki kualifikasi batin seorang Brahma.
4. panna, vijja, vimutti: memperoleh pembebasan dari tingkat duniawi, meninggalkan tiga belenggu; yang diawali dengan pengenalan diri, mencapai Dharma dari Buddha, dapat diandalkan, jujur, dan tulus terhadap Dharma dan Vinaya, serta menjadi anggota yang dapat diandalkan dalam Sangha.
Dengan demikian umat Buddha di seluruh dunia menyatakan ketaatannya seta kesetiaannya kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha dengan kata-kata yang sederhana, namun menyentuh hati.Kata-kata itu terkenal dengan sebutan tisarana (Tiga Perlindungan), yaitu:
·         Buddham Saranam Gacchami: Aku berlindung pada Buddha
·         Dhammam Saranam Gacchami: Aku berlindung pada Dhamma
·         Sangha Saranam Gacchami: Aku berlindung pada Sangha
·        
Dalam teks Hua Yi, kata-katanya diucapkan seperti ini:
·         Na Mo Fo
·         Na Mo Fa
·         Na Mo Seng
Rumusan ini disabdakan oleh Sang Buddha (bukan oleh para siswanya/makhluk lain). Pada suatu ketika, Sang Buddha berada di Taman Rusa Isipatana dekat Benares kepada 60 arahat.Pada waktu itu, mereka berkangkat menyebarkan dhamma dengan kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia, lalu Sang Buddha besabda, “ Para Bhikku, ia yang akan ditabhiskan menjadi Samanera dan Bhikku, hendaklah setelah mencukur kepala dan mengenakan jubah kuning bersujud (Namaskara) kepada para Bhikku, lalu duduk bertumpu lutut dan merangkapkan kedua bnelah tangan di depan dan berkata: Aku berlindung pada Buddha, Aku berlindung pada Dhamma, dan Aku berlindung pada Sangha” (Vinaya Pittaka I:22).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar