Kamis, 25 Agustus 2011

Sutta Made Easy

Sutta Pitaka


Sutta Piaka adalah bagian kedua dari tiga bagian Tipitaka, kitab suci agama Buddha. Sutta pitaka berisi tentang khotbah- khotbah, dialog dan tanya jawab oleh Buddha Gautama dengan para siswa, pertapa, maupun orang lain.
Sutta Pitaka terdiri atas 5 kumpulan (nikaya) atau buku, yaitu:
  1. Digha Nikāya
  2. Majjhima Nikāya
  3. Sayutta Nikāya
  4. Aguttara Nikāya
  5. Khuddaka Nikāya
1. Digha Nikaya
Kotbah "Panjang" (Pali digha = "panjang") terdiri dari 34 sutta dan terbagi menjadi 3 vagga (Silakkhandhagga, Mahavagga, Patikavagga), termasuk sutta yang terpanjang di Kanon. Subjek sutta-sutta ini cakupannya luas, dari kisah-kisah mahluk yang tinggal dialam dewata yang seperti kisah rakyat yang beraneka-warna (DN 20) sampai yang instruksi meditasi praktis yang membumi (DN 22). Belakangan ini para ahli mengajukan bahwa Digha Nikaya yang memiliki ciri khas tersebut memang "dimaksudkan untuk propaganda, untuk menarik ke agama baru. Beberapa di antara Sutta-sutta yang terkenal adalah:
·   Bramajala Sutta: "Jala para Brahma" Sang Buddha bersabda bahwa Beliau mendapat penghormatan bukan semata-mata karena kesusilaan, melainkan karena kebijaksanaan yang mendalam yang beliau temukan dan nyatakan. Ia memberikan sebuah daftar berisi 62 bentuk spekulasi mengenai dunia dan pribadi dari guru-guru lain.
·   Samannaphala Sutta: "Pahala yang dimiliki oleh tiap pertapa". Kepada Ajatasattu yang berkunjung pada Sang Buddha, Beliau menerangkan keuntungan menjadi seorang Bhikkhu, dari tingkat terendah sampai tingkat Arahat.
·   Ambattha Sutta: Percakapan antara Sang Buddha dengan Ambattha mengenai kasta, yang sebagian memuat cerita tentang raja Okkaka, leluhur Sang Buddha.
·   Kutadanta Sutta: Percakapan dengan Brahmana Kutadanta tentang ketidaksetujuan terhadap penyembelihan binatang untuk sajian.
·   Mahali Sutta: Percakapan dengan Mahali mengenai penglihatan gaib. Yang lebih tinggi dari pada ini adalah latihan menuju kepada pengetahuan sempurna.
·   Kassapasihanada Sutta: Percakapan dengan seorang pertapa telanjang Kassapa tentang tidak bermanfaatnya menyiksa diri.
·   Tevijja Sutta: tentang ketidakbenaran pelajaran ketiga Veda untuk menjadi anggota kelompok dewa-dewa Brahma.
·   Mahapadana Sutta: Penjelasan Sang Buddha mengenai 6 orang Buddha yang sebelumnya dan beliau sendiri, mengenai masa-masa mereka muncul, kasta, susunan keluarga, jangka kehidupan, pohon bodhi, siswa-siswa utama, jumlah pertemuan, pengikut, ayah, ibu dan kota dengan sebuah khotbah kedua mengenai Vipassi dari saat meninggalkan surga Tusita hingga saat permulaan memberi pelajaran.
·   Mahanidana Sutta: mengenai rantai sebab musabab yang bergantungan dan teori-teori tentang jiwa.
·   Mahaparinibbana Sutta: cerita tentang hati-hari terakhir dan kemangkatan Sang Buddha, serta pembagian relik-relik.
·   Sakkapanha Sutta: Dewa Sakka mengunjungi Sang Buddha, menanyakan 10 persoalan dan mempelajari kesunyataan bahwa segala sesuatu yang timbul akan berakhir dengan kemusnahan.
·   Maha Satipatthana Sutta: Khotbah mengenai 4 macam meditasi (mengenai badan jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma) disertai penjelasan mengenai 4 Kesunyataan.
·   Payasi Sutta: Kumarakassapa menyadarkan Payasi dari pandangan keliru bahwa tiada kehidupan selanjutnya atau akibat dari perbuatan. Setelah Payasi mangkat, Bhikkhu Gavampati menemuinya di surga dan melihat keadaannya.
·   Pitika Sutta: cerita mengenai seorang siswa yang mengikuti guru lain, karena Sang Buddha tidak menunjukkan kegaiban maupun menerangkan asal mula banda-benda. Selama percakapan, Sang Buddha menerangkan kedua hal tersebut.
·   Cakkavattisihanada Sutta: cerita tentang raja dunia dengan berbagai tingkat penyelewengan moral dan pemulihannya serta tentang Buddha Metteyya yang akan datang.
·   Aganna Sutta: perbincangan mengenai kasta dengan penjelasan mengenai asal mula benda-benda, asal mula kasta-kasta dan artinya yang sesungguhnya.
·   Sampasadaniya Sutta: percakapan antara Sang Buddha dengan Sariputta yang menyatakan keyakinannya kepada Sang Buddha dan menjelaskan ajaran Sang Buddha. Sang Buddha berpesan untuk kerap kali mengulangi pelajaran ini kepada para siswa.
·   Lakkhana Sutta: Penjelasan mengenai 32 tanda "Orang Besar" (Raja alam semesta atau seorang Buddha), yang dijalin dengan syair berisi 20 bagian; tiap bagian dimulai dengan "Disini dikatakan".
Sigalovada Sutta: Sang Buddha menemukan Sigala sedang memuja enam arah. Ia menguraikan kewajiban seorang umat dengan menjelaskan bahwa pemujaan itu adalah menunaikan kewajiban terhadap enam kelompok orang (orang tua, guru, sahabat dan lain-lain).

2. Majjhima Nikāya
Majjhima Nikāya merupakan salah satu bagian dari Sutta Piaka yang memuat khotbah-khotbah menengah atau yang memiliki panjang sedang. Kitab ini terdiri atas 152 sutta, yang terbagi menjadi tiga bagian (biasa disebut paṇṇāsa atau Rangkaian Lima Puluh). Pada setiap paṇṇāsa, sutta-sutta tersebut dibagi lagi menjadi 10 sutta tiap vagga (bab). Tetapi untuk vagga terakhir terdiri atas 12 sutta. Majjhima Nikāya mencakup dari beberapa sutta yang dalam dan sulit di Kanon (misalnya, MN 1) sampai ke kisah yang menarik tentang kesedihan dan drama yang mengilustrasikan prinsip penting dari hukum kamma (misalnya, MN 57, MN 86). Vagga-vagga tersebut dalam Majjhima Nikaya adalah:
1.      Mulapariya vagga, terdiri 10 sutta
2.      Sihanda vagga, terdiri 10 sutta
3.      Vagga ketiga, terdiri 10 sutta
4.      Mahayamaka vagga, terdiri 10 sutta
5.      Culayamaka vagga, terdiri 10 sutta
6.      Gahapati vagga, terdiri 10 sutta
7.      Bhikku vagga, terdiri 10 sutta
8.      Paribbajaka vagga, terdiri 10 sutta
9.      Raja vagga, terdiri 10 sutta
10.  Brahmana vagga, terdiri 10 sutta
11.  Devadaha vagga, terdiri 10 sutta
12.  Anupuda vagga, terdiri 10 sutta
13.  Sunnata vagga, terdiri 10 sutta
14.  Valayatana vagga, terdiri 10 sutta
15.  Vibhanga vaga, terdiri 10 sutta

3. Samyutta Nikaya
Samyutta Nikaya merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta (menurut "An analysis of the Pali Canon" [wheel no.217/218/219/220] ada 2.889 sutta). Buku yang aslinya ditulis dalam bahasa Pali ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.
Beberapa Samyutta di antaranya sebagai berikut:
  • Mara: perbuatan-perbuatan bemusuhan dari Mara terhadap Sang Buddha dan para siswaNya.
  • Bhikkhuni: bujukan yang tidak berhasil dari Mara terhadap para Bhikkuni dan perbedaan pendapatnya dengan mereka.
  • Brahma: Brahma Sahampati memohon Sang Buddha untuk membabarkan Dhamma kepada dunia.
  • Sakka: Sang Buddha menguraikan sifat-sifat Sakka, Raja para Dewa.
  • Nidana Samyutta: penjelasan mengenai Paticcasamuppada (doktrin sebab musabab yang saling bergantungan).
  • Abhisamaya: dorongan untuk membasmi kekotoran batin secara tuntas.
  • Khandha Samyutta: kumpulan unsur, fisik dan mental yang membentuk individu.
  • Kilesa: kekotoran batin muncul dari enam pusat indria dan kesadaran indria.
  • Vedana: tiga jenis perasaan dan sikap yang benar terhadap perasaan itu.
  • Citta: alat indria dan obyeknya pada hakekatnya tidak jahat, melainkan kehendak-kehendak tidak baik yang timbul melalui kontak mereka.
  • Asankhata: tidak terbentuk (Nibbana)
  • Magga Samyutta: jalan beruas delapan.
  • Bojjhanga: tujuh faktor Penerangan Agung.
  • Satipatthana: empat dasar kesadaraan.
  • Indriya: lima kemampuan
  • Sammappadhana: empat macam usaha benar.
  • Bala: lima kekuatan.
  • Iddhipada: empat kekuatan batin.
  • Anuruddha: kekuatan-kekuatan gaib yang dicapai oleh Anuruddha melalui kesadaran.
  • Jhana: empat jhana
  • Anapana: kesadaraan dari pernapasan.
  • Sotapatti: gambaran tentang seorang "penakluk arus".
  • Sacca: empat kesunyataan mulia.
4. Anguntara Nikaya
Anguttara Nikaya (dalam bahasa Pali : Aguttara Nikāya), merupakan buku ke empat dari Sutta Pitaka yang terdiri dari sebelas kelompok, merupakan salah satu dari "Tiga Keranjang" yang terdapat pada Tipitaka (Buddhisme Theravada). Anguttaka Nikaya terdiri dari beberapa ribu[1] sutta yang disusun dalam sebelas buku (nipata).

Anguttara Nikaya selaras dengan Ekottara Agama ("Ceramah Satu Peningkatan") yang didapati dalam Sutta Pitaka dari berbagai naskah berbahasa Sansekerta pada awal Buddhisme, sebagian masih ada dalam berbahasa Sansekerta. Kumpulan lengkap didapati dalam terjemahan bahasa Cina oleh seseorang bernama Zēngyī Ahánjīng (增一阿含經) Pembagian

Kelompok-kelompok yang diklasifikasikan (Nipata) dibagi berdasarkan nomor.
1.      Buku Kumpulan Satu - Ekaka-Nipata;
2.      Buku Kumpulan Dua - Duka;
3.      Buku Kumpulan Tiga - Tika;
4.      Buku Kumpulan Empat - Catukka;
5.      Buku Kumpulan Lima - Pancaka;
6.      Buku Kumpulan Enam - Chakka;
7.      Buku Kumpulan Tujuh - Sattaka;
8.      Buku Kumpulan Delapan - Atthaka;
9.      Buku Kumpulan Sembilan - Navaka;
10.  Buku Kumpulan Sepuluh - Dasaka;
11.  Buku Kumpulan Sebelas - Ekadasaka;

5. Khuddaka Nikaya
"Bagian buku pendek" (Pali khudda = "kecil," "kurang"), terdiri dari limabelas buku (delapan belas pada edisi Bahasa Burma):
1.      Khuddakapatha — Potongan Singkat
2.      Dhammapada — Jalan Dhamma
4.      Itivuttaka — Demikianlah dikatakan
5.      Sutta Nipata — Kumpulan Sutta
6.      Vimanavatthu — Kisah tentang Istana Surgawi
7.      Petavatthu — Kisah tentang hantu kelaparan
8.      Theragatha — Bait tentang tetua biarawan
9.      Therigatha — Bait tentang tetua biarawati
10.  Jataka — Kisah tentang kelahiran
11.  Niddesa — Penjelasan
12.  Patisambhidamagga — Jalan untuk Membedakan
13.  Apadana — Kumpulan Kisah
14.  Buddhavamsa — Sejarah para Buddha
15.  Cariyapitaka — Keranjang tentang Tata Cara
16.  Nettippakarana (hanya pada Tipitaka Bahasa Burma)
17.  Petakopadesa (hanya pada Tipitaka Bahasa Burma)
18.  Milindapañha — Pertanyaaan Milinda (hanya pada Tipitaka Bahasa Burma)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar