Kamis, 25 Agustus 2011

Reinkarnasi

Pendahuluan

 
Dalam agama Buddha dipercayai adanya suatu proses kelahiran kembali (Punabbahava). Semua makhluk hidup yang ada di dalam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama mkhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut. Bila ia baik akan melahirkan dia alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikirran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung pada karma masing-masing yang dibuat oleh makhluk hidup tersebut. Agama Buddha tidak mempercayai bahwa hidup susah atau senang karena kebijakan Tuhan yang punya wewenang mutlak dalam mengatur segala kehidupan di dunia fana.Karena  kehidupan sekarang yang diperoleh sekarang karena karma yang diperbuat pada masa lalu.



Reinkarnasi


Reinkarnasi (dari bahasa Latin untuk "lahir kembali" atau "kelahiran semula") atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.
Terdapat dua aliran utama yaitu pertama,mereka yang mempercayai bahwa manusia akan terus menerus lahir kembali. Kedua,mereka yang mempercayai bahwa manusia akan berhenti lahir semula pada suatu ketika apabila mereka melakukan kebaikan yang mencukupi atau apabila mendapat kesadaran agung (Nirvana) atau menyatu dengan Tuhan (moksha). Agama Hindu menganut aliran yang kedua.Kelahiran kembali adalah suatu proses penerusan kelahiran di kehidupan sebelumnya.

Reinkarnasi dalam agama Buddha

Dalam agama Buddha dipercayai bahwa adanya suatu proses kelahiran kembali (Punabbhava). Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut; bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiaannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.

Reinkarnasi dalam Hinduisme

Dalam agama Hindu, filsafat reinkarnasi mengajarkan manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya tidak luput dari duka. Selama jiwa terikat pada hasil perbuatan yang buruk, maka ia akan bereinkarnasi menjadi orang yang selalu duka. Dalam filsafat Hindu dan Buddha, proses reinkarnasi memberi manusia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya
Dalam filsafat agama Hindu, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal. Jika manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya yang belum sempat dinikmati. Selain diberi kesempatan menikmati, manusia juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya (kualitas).
Jadi, lahir kembali berarti lahir untuk menanggung hasil perbuatan yang sudah dilakukan. Dalam filsafat ini, bisa dikatakan bahwa manusia dapat menentukan baik-buruk nasib yang ditanggungnya pada kehidupan yang selanjutnya. Ajaran ini juga memberi optimisme kepada manusia. Bahwa semua perbuatannya akan mendatangkan hasil, yang akan dinikmatinya sendiri, bukan orang lain.
Yang bisa berinkarnasi itu bukanlah hanya jiwa manusia saja. Semua jiwa mahluk hidup memiliki kesempatan untuk berinkarnasi dengan tujuan sebagaimana di atas (menikmati hasil perbuatannya di masa lalu dan memperbaiki kulaitas hidupnya).

Proses reinkarnasi

Pada saat jiwa lahir kembali, roh yang utama kekal namun raga kasarlah yang rusak, sehingga roh harus berpindah ke badan yang baru untuk menikmati hasil perbuatannya. Pada saat memasuki badan yang baru, roh yang utama membawa hasil perbuatan dari kehidupannya yang terdahulu, yang mengakibatkan baik-buruk nasibnya kelak. Roh dan jiwa yang lahir kembali tidak akan mengingat kehidupannya yang terdahulu agar tidak mengenang duka yang bertumpuk-tumpuk di kehidupan lampau. Sebelum mereka bereinkarnasi, biasanya jiwa pergi ke surga atau ke neraka.
Dalam filsafat agama yang menganut faham reinkarnasi, neraka dan sorga adalah suatu tempat persinggahan sementara sebelum jiwa memasuki badan yang baru. Neraka merupakan suatu pengadilan agar jiwa lahir kembali ke badan yang sesuai dengan hasil perbuatannya dahulu. Dalam hal ini, manusia bisa bereinkarnasi menjadi makhluk berderajat rendah seperti hewan, dan sebaliknya hewan mampu bereinkarnasi menjadi manusia setelah mengalami kehidupan sebagai hewan selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Sidang neraka juga memutuskan apakah suatu jiwa harus lahir di badan yang cacat atau tidak.

Akhir proses reinkarnasi

Selama jiwa masih terikat pada hasil perbuatannya yang terdahulu, maka ia tidak akan mencapai kebahagiaan yang tertinggi, yakni lepas dari siklus reinkarnasi. Maka, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi tersebut, roh yang utama melalui badan kasarnya berusaha melepaskan diri dari belenggu duniawi dan harus mengerti hakikat kehidupan yang sebenarnya. Jika tubuh terlepas dari belenggu duniawi dan jiwa sudah mengerti makna hidup yang sesungguhnya, maka perasaan tidak akan pernah duka dan jiwa akan lepas dari siklus kelahiran kembali.


 Problem of Evil
1. Masalah kenapa orang-orang yang tidak pernah berbuat curang, dusta, korup,
amoral atau jahat selama hidupnya, bernasib sial, hidup sengsara dan
ditimpa bermacam-macam kesusahan, sedangkan banyak orang yang nyanyata-
nyata hidup berdosa malahan hidup makmur, enak, nyaman dan senang,
disebut problem of evil.
2. Ada 2 (dua) teori yang dikemukakan untuk menjawab fakta paradok
TEORI DOSA TURUNAN
(a) Manusia menderita karena mewarisi dosa dari leluhur pertama.
(b) Hidup susah atau senang karena kebijakan Tuhan yang punya wewenang
mutlak dalam mengatur segala kehidupan di dunia fana.
TEORI UJIAN TUHAN
(a) Manusia lahir tanpa dosa, jadi baik atau jahat karena lingkungan.
(b) Dualitas kehidupan (sehat-sakit, senang-susah, pujian-hinaan, dsb)
adalah ujian/cobaan yang diberikan oleh Tuhan.
(c) Hidup susah atau senang karena kebijakan Tuhan yang punya wewenang
mutlak dalam mengatur segala kehidupan di dunia fana.

3. Kedua teori tersebut tidak mampu menjelaskan kenapa ada problem of evil
di masyarakat manusia. Sebab keduanya tidak mampu menjawab pertanyanyaan
berikut.
(a) Bila setiap orang mewarisi dosa leluhurnya dalam porsi yang sama,
mengapa nasib sang manusia amat berbeda satu dengan yang
lainnya? Bila seseorang miskin karena me-warisi dosa leluhur
lebih banyak dari si kaya, lalu apa alasan Tuhan menetapkan si
miskin harus me-nanggung dosa leluhur lebih banyak dari pada
si kaya?
(b) Apa alasan Tuhan menguji seseorang dengan membuat dia lahir
dalam keluarga miskin dan melarat se-umur hidupnya, sedangkan
orang lain di-uji dengan lahir dalam keluarga kaya dan senang
se-umur hidupnya?
(c) Mengapa tiga orang bersaudara yang lahir dalam keluarga sama,
besar dalam lingkungan sama, di-didik dengan cara yang sama
dan diberi makan sama, harus bernasib berlain-lainan?
(d) Jikalau setiap bayi lahir suci tanpa dosa, mengapa banyak bayi
lahir dengan pisik cacat, berpenyakitan atau abnormal yang menjadi pangkal
derita kehidupannya di dunia fana?
4. Jawaban para penganut Teori dosa turunan, “Hanya Tuhan yang tahu”, tidak
memuaskan siapapun yang berpikir kritis. Sedangkan jawaban para
penganut Teori ujian/cobaan Tuhan, “Itu adalah rahasia Tuhan, hanya Tuhan
yang tahu”, pun tidak memuaskan mereka yang berpikir kritis.


Teori tidak logis dan tidak rasional
1. Teori dosa turunan tidak rasional, sebab kalau ayah saya yang melakukan
kejahatan, lalu mengapa saya yang tidak ikut berbuat jahat dan tidak tahu
permasalahannya, harus kena hukumqan dan menderita?
2. Teori bahwa hidup di dunia fana adalah ujian/cobaan Tuhan dan bahwa setiap
orang lahir suci tanpa dosa, tidak mencerminkan aturan dan tindakan Tuhan
yang maha arif, maha bijaksana, maha benar dan maha adil. Sebab, bagaimanapun
juga Tuhan yang maha bijak, maha benar dan maha adil, tidak
mungkin membuat hidup seseorang sengsara tanpa sebab dan alasan jelas
masuk akal.
3. Dalam kehidupan sehari-hari secara material
atau pisik nampak jelas bahwa orang di-hukum
dan menderita karena ada sebab dan alasannya.
Begitu pula, secara spiritual atau metapisik, seseorang
lahir cacat/abnormal, hidup dalam kemiskinan
dan menderita, pasti ada sebab-musababnya
dan tidak mungkin terjadi secara kebetu
lan. Dan Tuhan tidak mungkin menetapkan kehidupan seseorang sengsara
atau bahagia secara sewenang-wenang tanpa sebab dan alasan yang pasti
dan benar.


Takdir, nasib dan ikhtiar
1. Oleh karena ilmu pengetahuan material (maya-tattva) dan ajaran-ajaran rohani mutakhir yang muncul pada masa Kali-Yuga tidak mampu menjelaskan
secara logis, rasional dan pilosofis tentang nasib buruk atau derita yang menimpa
begitu banyak manusia dalam keadaan yang berbeda-benda, maka banyak
sekali orang jadi bingung dan tidak mengerti apa itu takdir, nasib dan
ikhtiar.
2. Oleh karena tidak bisa mengerti takdir, nasib dan ikhtiar secara benar, maka
orang-orang berkesadaran materialistik menimpakan
kesalahan kepada Tuhan atas takdir,
nasib buruk dan kegagalan hidupnya,
seraya menyatakan bahwa Tuhan tidak maha
kuasa karena tidak mampu meniadakan
derita yang menimpa begitu banyak makhluk
manusia
3. Selama sang manusia meng-anggap bahwa kehidupannya di dunia fana ini
hanya sekali ini saja, dan bahwa sebelum kehidupan material sekarang tidak
ada kehidupan material yang telah pernah di jalani, dan setelah kehidupan
material sekarang berakhir tidak akan ada lagi kehidupan material yang harus
dijalani, maka sang manusia tidak akan pernah bisa mengerti dengan benar
tentang takdir, nasib dan ikhtiar gagal dalam kehidupan yang sedang dijalaninya.


Ungkapan Maha Pengasih dan Penyayang yang membingungkan
1. Sifat Tuhan yang “Maha pengasih dan penyayang” paling sering dikumandangkan oleh para penganut ajaran roani mutakhir. Pernyataan ini seolahberarti
bahwa Tuhan tidak memiliki sifat-sifat lain apapun. Dan pernyataan
ini sungguh-sungguh membingungkan orang-orang yang ter-timpa nasib
malang dan hidup menderita.
2. Jika Tuhan sungguh maha pengasih dan penyayang,
(a) Mengapa Tuhan membiarkan begitu banyak manusia hidup sengsara
karena kelaparan, perang, teror bom bunuh diri, bencana alam,
penyakit dan kecelakaan.
(b) Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan, kemunafikan, tindak-kekerasan dan berbagai macam perbuatan amoral terus merajalela di masyarakat manusia?
(c) Mengapa Tuhan membiarkan para pembohong, pendusta, penipu dan koruptor hidup enak dan nyaman dalam kesuka-citaan? Dan
(d) Mengapa Tuhan membiarkan orang-orang baik-hati, saleh, jujur dan dermawan
ditimpa bermacam-macam kesulitan dan kesusahan hidup di dunia fana?


Kesempatan Melunasi Hutang
1. Kelahiran kembali ke dunia fana atau alam material akibat hutang karma yang
belum lunas, disebut punarbhava (punar = lagi, dan bhava =
lahir, menitis atau menjelma).
2. Secara umum, punarbhava disebut reinkarnasi (reincarnation) yang berarti penjelmaan kembali atau tumimbal lahir. Artinya, sang makhluk hidup (jiva) yang di-belenggu oleh hutang karma dari penjelmaan sebelumnya, harus men-jelma (lahir) lagi ke dunia fana dengan badan jasmani baru tertentu (manusia, deva, hewan, reptil atau badan jenis lain) untuk menikmati atau menderita akibat (phala) dari perbuatan (karma) yang telah dilakukannya itu.
3. Dengan ber-punarbhava sebagai manusia, sang makhluk hidup (jiva) dapat
kesempatan untuk :
(a) Mengurangi hutang karma buruk
(b) Menambah hutang karma bajik, dan
(c) Berangsur- angsur melunasi segala hutang karma bajik dengan tekun melakukan pelayanan bhakti (cinta-kasih)
4. Jika seseorang sudah tidak memiliki (=bebas dari segala ) hutang karma
buruk dan bajik, itu berarti dia telah tersucikan, berada pada tingkat spiritual,
dan memenuhi syarat untuk kembali tinggal di alam rohani.



Proses Berpikir

Menurut Abhidhamma, dalam keadaaan biasa pada satu saat berpikir terdapat 17 getaran kesadaran yang berlangsung dengan cepat. Adapun proses berpikir pada keadaan biasa tersebut adalah :
1. Bhavanga Atita ( kesadaran tak aktif lampau )
2. Bhavanga Calana ( bhavanga bergetar )
3. Bhavanga Upaccheda ( bhavanga berhenti bergetar )
4. Pancadvaravajjana ( lima gerbang tempat masuk objek )
5. Panca Vinnana ( lima kesadaran )
6.Sampaticchana ( kesadaran penerima )
7. Santirana ( kesadaran pemeriksa )
8. Votahapana ( kesadaran memutuskan )
9 – 15 Javana ( kesadaran impuls )
16 – 17 Tadalambana ( kesadaran merekam )

Tahap Pertama :
Bhavanga Citta adalah kesadaran yang pasif. Kesadaran pasif ini terdapat pada orang yang sedang tidur nyenyak tanpa mimpi atau ketika seseorang tidak memberikan reaksi apa apa terhadap rangsangan objek dari luar maupun dari dalam. Kesadaran ini dipandang sebagai tahap pertama untuk mempelajari proses berpikir walaupun proses berpikir itu belum mulai.

Tahap Kedua :
Bhavanga Calana adalah kesadaran yang bergetar, karena misalnya ada objek luar atau stimulasi oleh suara cahaya ( bentuk) atau rangsangan pada indriya yang diterima oleh orang yang tidur, pada tahap ini Bhavanga Atita lenyap atau dengan kata lain bhavanga citta mulai aktif. Keadaan ini merupakan tahap kedua. Calana artinya bergerak atau bergetar. Pada tahap ini bhavanga mulai bergetar, getaran ini hanya berlangsung satu saat saja sesudah itu berhenti. Hal ini merupakan akibat dari rangsangan atau objek yang berusaha untuk menyentuh atau menarik perhatian kesadaran pikiran dengan cara menganggu arus bhavanga.

Tahap Ketiga :
Bhavanga Upaccheda adalah tahap pada waktu getaran bhavanga calana terhenti. Upaccheda artinya dipotong atau diputuskan. Sebagai akibatnya, proses pikiran muncul dan mulai mengalir, namun stimulasi atau objek belum dapat dikenal oleh kesadaran.

Tahap Keempat :
Pancadvaravajjana atau kesadaran mengarah pada lima pintu indriya. Pada tahap ini kesadaran dari proses berpikir mulai mengarah untuk mengenal objek dan pada tahap ini pula kesadaran diarahkan untuk mengetahui pada indriya mana dari lima pintu indriya stimulus akan masuk. Pancadvara adalah “ lima pintu “ sedangkan avajjana artinya “ mengarah pada ”. Pada tahap ini orang yang tidur baru tersadar dan perhatiannya diarahkan pada sesuatu, tetapi tidak mengetahui apa – apa tentang hal itu.
Bila perhatiannya bangkit bukan disebabkan oleh rangsangan dari luar melalui salah satu panca inderanya tetapi oleh rangsangan dalam yaitu dari pikiran maka tahap ini disebut Manodvaravajjana atau “kesadaran mengarah pada pintu indriya pikiran “. Dalam hal ini tahap proses berpikir agak berbeda dengan proses yang kita bicarakan sebab tahap ke-5 sampai ke-8 tidak terjadi.

Tahap Kelima :
Uraian pada tahap ini dibicarakan bila proses berpikir didasarkan pada kesadaran yang mendapat rangsangan luar melalui panca inderanya. Pancavinnana, Panca adalah lima sedangkan vinnana adalah kesadaran. Bila rangsangan itu adalah bunyi maka sota – vinnana atau kesadaran mendengar yang bekerja. Bila rangsangan itu adalah sentuhan maka disebut kaya – vinnana atau kesadaran tubuh yang bekerja. Bila itu adalah bayanganatau objek pandangan maka cakkhu – vinnana yang bekerja. Dan seterusnya. Dalam hal ini pada setiap inderiya ada kesadaran inderiya dan kesadaran inderiya ini yang bekerja. Tapi pada tahap ini kesadaran belum mengerti betul tentang rangsangan apa yang muncul melalui pintu inderiya, hal itu hanya dirasakan( sensed ).

Tahap Keenam :
Sampaticchana adalah kesadaran penerima, Tahap ini muncul bila kesan inderiya disebabkan oleh rangsangan yang diterima dengan baik.

Tahap Ketujuh :
Setelah penerima berfungsi, maka muncul fungsi pemeriksa ( santirana ). Pada tahap ini santirana melaksanakan fungsi pemeriksa dengan cara menentukan rangsangan atau objek apa yang menyebabkan kesan inderiya dan apa yang diterima lalu diperiksa.

Tahap Kedelapan :
Votthapana adalah kesadaran memutuskan atau menentukan, pada tahap ini keputusan diambil berdasarkan rangsangan yang disebabkan oleh kesan inderiya, dan apa yang diperiksa lalu diputuskan atau ditentukan.

Tahap Kesembilan sampai Kelima belas :
Javana adalah impuls kesadaran. Pada saat ini kesadaran bergetar selama tujuh kali ( pada saat saat menjelang meninggal dunia, javana hanya bergetar lima kali ). Javana merupakan saat introspeksi yang diikuti oleh perbuatan. Javana berasal dari kata kerja “ javati ” yang artinya “ lari mendorong atau mendesak “. Javana merupakan impuls yang muncul sebagai klimaks dari proses kesadaran dalam proses berpikir. Karena pada tahap ini seseorang dapat menyadari dengan jelas tentang objek atau rangsangan dengan semua ciri cirinya.

Pada tahap ini kamma atau karma mulai berproses sebagai karma baik atau karma buruk. Karena kemauan bebas ada pada javana. Tahap tahap lain dari proses berpikir merupakan gerakan refleks dan harus muncul, sedangkan javana merupakan tahap dimana kesadaran bebas untuk menentukan atau memutuskan. Dalam javana ada hak untuk memilih dan mempunyai kekuatan untuk menentukan masa depan sesuai dengan kehendaknya ( karmanya ). Bial suatu hal salah dimengerti dan perbuatan telah dilaksanakan, maka hasilnya adalah tidak menyenangkan atau karma buruk. Javana adalah kata tknis yang sulit sekali diterjemahkan dengan tepat.

Tahap Keenam belas dan Ketujuh belas :
Tadalambana atau kesadaran mencatat atau merekam kesan. Tadalambana adalah dua saat yang merupakan akibat yang muncul segera setelah javana. Fungsi tadalambana adalah mencatat atau merekam kesan yang dibuat oleh javana. Tadalambana bukan bagian yang paling penting dari proses berpikir karena fungsinya hanya merekam kesan saja. Tadalambana berasal dari kata Tadarammana yang artinya adalah “objek itu”. Dimana Tadalambana karena kesadaran ini mempunyai objek yang sama dengan objek dari javana.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam uraian ini bahwa 17 tahap yang membentuk suatu proses berpikir hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek sekali. Perkembangan dari proses berpikir adalah berbeda beda bagi setiap objek, hal ini terjadi karena adanya intensitas rangsangan yang berbeda pula. Jika intensitas rangsangan besar sekali maka suatu proses berpikir yang sempurna terjadi, jika intensitas rangsangan besar maka tadalambana ( tahap 16 dan 17 ) tidak terjadi. Jika intensitas rangsangan kecil atau kecil sekali maka proses berlangsung tanpa ada kesadaran yang sempurna.

Obyek dari Makhluk yang akan meninggal
  1. Objek berupa perbuatan (kammaârammana)
Yang dimaksud dengan objek berupa perbuatan ialah pelbagai kebajikan seperti menyumbangkan dâna, menjalankan kesilaan, mengembangkan batin atau pelbagai kejahatan seperti membunuh, mencuri, berzinah, berdusta, bermabuk-mabukan dan sebagainya; yang pernah diperbuat sepanjang hidup.Pada saat menjelang kematian, perbuatan-perbuatan ini mungkin berkesempatan untuk muncul sebagai objek dalam alur kematian melalui pintu batiniah. Apabila perbuatan yang direnungkan itu termasuk kebajikan, makhluk yang mati akan terlahirkan kembali di alam yang membahagiakan; sedangkan kalau termasuk kejahatan, akan terlahirkan kembali di alam yang menyengsarakan.
  1.  Objek berupa markah perbuatan (kammanimittaârammana)
Yang dimaksud dengan objek berupa markah perbuatan ialah pelbagai peralatan atau sarana dalam berbuat sesuatu, yakni enam macam objek: bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan dan objek batiniah yang berkenaan dengan perbuatan yang pernah dilakukan sepanjang hidup. Ini bisa merupakan penglihatan berupa vihâra, rumah sakit atau sekolahan yang didirikan, gambar atau arca Buddha, bhikkhu-sangha yang dipuja dan sebagainya; atau penglihatan berupa pisau penjagal atau pistol, barang-barang curian, wanita yang diperkosa, orang yang diperdayai, minuman keras, alat perjudian dan sebagainya.Apabila yang dilihat dan sebagainya itu termasuk sesuatu yang baik, yang menimbulkan keyakinan yang benar, yang menimbulkan ketenangan serta ketentraman dan sejenisnya, makhluk yang mati akan terlahirkan kembali di alam yang membahagiakan; sedangkan kalau termasuk sesuatu yang buruk, yang menimbulkan ketakutan, kegelisahan, kecemasan, ketakpuasan, kemelekatan, kekikiran dan sejenisnya, makhluk yang mati akan terlahirkan kembali di alam yang menyengsarakan. Jika markah perbuatan ini muncul karena pengenangan (berupa objek lampau), alur kematian yang terjadi berarti melalui pintu batiniah. Namun, kalau markah perbuatan ini benar-benar tertampak dan sebagainya pada saat itu pula (berupa objek sekarang), alur kematian yang terjadi berarti melalui pintu lima indera jasmaniah.
  1. Objek berupa markah tujuan (gatinimitta-ârammana).
Yang dimaksud dengan objek berupa markah tujuan ialah pelbagai pertanda atas alam kehidupan di mana suatu makhluk akan terlahirkan kembali. Apabila markah tujuan ini tertampak sebagai istana yang megah, kendaraan surgawi, dewa-dewi, cahaya terang, dan sejenisnya, makhluk yang mati akan terlahirkan di alam yang membahagiakan; sedangkan kalau tertampak sebagai api neraka yang menakutkan, tempat yang tandus atau kotor, jurang yang curam, binatang buas, kegelapan dan sejenisnya, makhluk yang mati akan terlahirkan kembali di alam yang menyengsarakan. Objek berupa tujuan ini sesungguhnya dapat muncul melalui seluruh pintu, namun kebanyakannya muncul melalui pintu penglihatan serta pintu batiniah.Hanya bisa melalui mano-drava saja karena sedang memikiri
    1. Objek dari kammavacara-patisandhi adalah akan pergi tumumbal lahir dalam kamabhumi.Maranasama-javana hanya memiliki kamma-nimmita-arramna sebagai objek yaitu kamma-arramna
    2. Objek dari rupavacara-patisandhi adalah akan pergi tumumbal lahir dalam rupabumi. Maranasama-javana hanya memiliki kamma-nimmita-arramna sebagai objek yaitu sewaktu memperoleh jhana dengan obyek kammathuna.
    3. Objek dari arupavacara-patisandhi adalah akan pergi tumumbal lahir dalam arupa-bhumi. Maranasama-javana hanya memiliki kamma-nimmita-arramna sebagai objek.

Proses kematian

  1. Pengaruh Kelahiran Pada Jasmani

Manusia terdiri dari kombinasi antara jasmani dan batin ( nama rupa ). Hubungan antara jasmani dan batin bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan anatra dua faktor ini. Bilamana orang berada pada saat saat menjelang kematian, jasmani dan batinnya lemah, mungkin seseorang kuat selalu tetapi pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah. Hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran dan pada saat getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arus listriknya diputuskan sehingga tidak ada tenaga lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap. Jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk, jasmani atau materi tak dapat lenyap tetapi akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen ini tak akan lenyap tetapi bentuk elemen elemen itu saja yang berubah.

  1. Pengaruh Kematian Pada Batin

Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal ? batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap batin ini adalah tetap keka. Kematian tidak menghentikan proses batin.

Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum saat kematian yang disebut maranasanna javana citta walaupun lemah dan tak dapat membuat buah pikiran baru namun memiliki suatu potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga objek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang yang segera akan meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak, munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru muncul. Pemunculan salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi berdasarkan pada perbuatan perbuatan ( karma ) orang tersebut selama hidupnya. Karma yang bekerja pada saat seperti ini disebut Janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatannya sendiri.

Menurut pandangan Buddhis, kematian terjadi karena salah satu dari empat hal yaitu :

- Kammakkhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma.
- Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan.
- Ubhayakkhaya atau habisnya janaka kamma dan masa kehidupan secara bersama sama.
- Upacchedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan masa kehidupan belum selesai, orang tersebut meninggal dengan cepat.

1. Kammakkhaya
Jika potensi dari janaka kamma atau karma yang mengatur tentang kelahiran telah habis, maka aktivitas organis jasmani yang memiliki daya hidup ( javitindriya ) mati walaupun batas usia kehidupan di alam tertentu itu belum habis. Hal ini biasanya terjadi pada makhluk makhluk yang lahir di alam menyedihkan ( apaya ), neraka, binatang, peta dan asura, tetapi hal ini terjadi juga di dalam alam alam lain.
2. Ayukkhaya
    Habisnya masa kehidupan makhluk, Hal ini terjadi sesuai dengan batas usia kehidupan makhluk di masing masing alam.

3. Ubhayakkhaya
    Bersamaan habisnya kekuatan janaka kamma dan batas usia kehidupan dari makhluk.

4. Upacchedaka kamma
Kematian seseorang terjadi karena ia telah melakukan perbuatan yang buruk sekali sehingga walaupun janaka kamma maupun usia kehidupannya belum selesai, Ia tiba tiba meninggal dunia sebagai akibat perbuatan buruk tersebut. Suatu kekuatan tertentu dapat menghentikan kendaraan yang sedang melaju, demikian pula karma yang kuat dapat melenyapkan potensi dari arus proses berpikir dan mengakibatkan seseorang meninggal.

Kammakkhaya, Ayukkhaya dan Ubhayakkhaya disebut sebagai “ meninggal pada waktunya ” ( kala marana ) sedangkan meninggal karena Upacchedaka kamma disebut “ meninggal bukan pada waktunya ” ( akal marana ). Untuk memperjelas keempat hal diatas tentang kematian, dimisalkan makhluk itu adalah lampu minyak, lampu akan padam karena empat hal yaitu jika minyak habis, sumbu habis, minyak dan sumbu sama sama habis atau karena ada angin kencang.


Sesaat sebelum mati Anda akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Anda merasa dingin di telinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.

0 Menit :
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

1 Menit :
Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.

3 Menit :
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.

4 - 5 Menit :
Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.

7 - 9 Menit :
Penghubung ke otak mulai mati, efek yang sama terjadi ketika anda menyaksikan sinetron.

1 - 4 Jam :
Rigor Mortis * Membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.

4 - 6 Jam :
Rigor Mortis * Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.

6 Jam :
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.

8 Jam :
Suhu tubuh langsung menurun drastis.

24 - 72 Jam :
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri !.

36 - 48 Jam :
Rigor Mortis * Berhenti, Tubuh anda selentur penari balerina lagi.

3 - 5 Hari :
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.

8 - 10 Hari :
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.

Beberapa Minggu :
Rambut, Kuku, Dan Gigi dengan mudahnya terlepas.

Satu Bulan :
Kulit Anda mulai mencair !.

Satu Tahun :
Selain tulang-belulang tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh anda ! Sekarang Anda adalah saingan Twiggy dan Calista Flockhart.

Proses kelahiran kembali
Berdasarkan pada uraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali, karena hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut :

  • Patisandhi Vinanna
  • Bhavanga Citta
  • Manodvaravajjana
  • Javana
  • Bhavanga Citta

1. Patisandhi Vinanna
Adalah kesadaran kelahiran kembali, dalam uraian tentang proses kematian, Patisandhi vinanna disebutkan pada urutan proses bagian akhir. Penyebutan ini bukan berarti bahwa patisandhi vinanna terjadi pada pikiran dari orang yang akan meninggal dunia itu, tetapi penyebutan patisandhi vinanna dalam uraian proses kematian adalah untuk menunjukan proses sebab akibat yang berkesinambungan dalam proses kematian dan kelak yang akan terlahir kembali.
Patisandhi vinanna hanya merupakan akibat dari maranasanna janaka citta. Patisandhi vinanna hanya muncul atau ada pada batin atau pikiran dari makhluk yang baru terlahir kembali. Jika makhluk yang terlahir kembali sebagai manusia maka patisandhi vinanna muncul pada ovum yang baru dibuahi oleh sperma dalam kandungan atau tabung ( untuk bayi tabung ). Bersamaan dengan adanya patisandhi vinanna terjadi pula kelompok sepuluh dari jasmani ( kaya dasaka ), kelompok sepuluh dari kelamin ( bhava dasaka ) dan kelompok sepuluh dari kedudukan kesadaran ( vatthu dasaka ).
Kaya dasaka terdiri dari :
  • elemen
  • elemen cair
  • elemen panas
  • elemen gas
  • wana
  • bau
  • ras
  • sari makanan
  • inderiya kehidupan
  • tubuh

Bhava dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti pada kaya dasaka dan ke 10 adalah kelamin. Sedangkan vatthu dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti kaya dasaka dan ke 10 adalah kedudukan kesadaran.
Menurut pandangan Buddhis, kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dihasilkan oleh karma. Walaupun kelamin telah ditentukan namun kelamin belum berkembang pada saat pembuahan tetapi potensi kelamin adalah laten.
Jadi dengan ada patisandhi vinanna maka kombinasi jasmani – batin baru mulai berkembang dalam kandungan. Sperma ovum orang tua menyiapkan materi sedangkan patisandhi vinanna menyiapkan batin. Patisandhi vinanna yang berhubungan dengan kehidupan yang lalu dan kehidupan yang baru. Proses kesadaran tidak pernah berhenti, kesadaran terakhir dari makhluk yang meninggal berproses terus dan menghasilkan kesadaran lain tetapi bukan dalam tubuh yang sama. Kesadaran lain itu adalah patisandhi vinanna yang hanya bergetar sesaat lalu lenyap dan langsung diikuti oleh bhavanga citta.
           
Dinyatakan pula bahwa ada empat macam cara kelahiran dari makhluk – makhluk yaitu :
  • Jalabuja yaitu makhluk yang lahir melalui kandungan seperti manusia dan binatang binatang tertentu.
  • Andaja yaitu makhluk yang lahir melalui telur seperti unggas, ular, buaya dan binatang lain.
  • Samsedaja yaitu makhluk yang lahir di tempat yang lembab atau bukan cara jalabuja atau andaja seperti binatang tingkat rendah
  • Opapatika yaitu makhluk yang lahir secara spontan. Biasanya makhluk yang lahir secara spontan adalah makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Contohnya : para dewa, peta atau setan, asura dan makhluk di alam brahma.

2. Bhavanga Citta
Setelah Patisandhi vinanna lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar selama 16 saat. Pada tahap embrio maka ia masih merupakan bagian tubuh ibu, itu sebabnya bhavanga citta berproses dengan lancar tanpa ada gangguan.

3. Manodvaravajjana
Telah disebutkan diatasbahwa bhavanga citta hanya berlangsung selama 16 saat dan lenyap, kemudian muncul manodvaravajjana. Bhavanga citta memberikan jalan untuk proses berpikir berlangsung berdasarkan pada keinginan yang muncul dalam batin dari embrio karena kehidupan barunya.

4. Javana
Setelah manodvaravajjana lenyap, javana atau impuls kesadaran muncul. Javana melangsungkan kesadaran yang terjadi pada manodvaravajjana yaitu keinginan pada kehidupan baru. Javana mengembangkan keinginan makhluk baru ( bhavana nikanti javana ), javana bergetar selama 7 saat lenyap.

5. Bhavanga citta
Ketika javana lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar. Bhavanga citta bergetar terus hingga ada sesuatu yang menghentikannya. Pada waktu bayi lahir, ia mulai berhubungan dengan dunia luar maka proses berpikir normal mulai berfungsi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar