Kamis, 25 Agustus 2011

Abhidhamma Made Easy

Abhidhamma Pitaka
Abhidhamma Piaka adalah kitab yang berisikan tentang uraian mengenai filsafat, metafisika dan ilmu jiwa Buddha Dhamma, yang terdiri dari 42.000 Dhammakhandha (pokok Dhamma), yang terbagi menjadi:
  1. Dhamma sangaī
  2. Vibhanga
  3. Dhātukathā
  4. Puggala paññatti
  5. Kathāvatthu
  6. Yamaka
  7. Paṭṭhana
Menurut catatan sejarah, Abhidhamma Pitaka adalah suatu kitab yang baru resmi tertuliskan pada Muktamar (sanghayana) keempat yang diselenggarakan di Aluvihara, Sri Lanka pada tahun 83 Sebelum Masehi. Pada mulanya, kitab ini dituliskan pada lembaran-lembaran daun lontar. Sedangkan bahasa yang digunakan adalah bahasa Pali (Magadha). Namun beberapa tahun kemudian telah terdapat pula Abhidhamma Piaka yang ditulis dalam bahasa Sinhala, Devanagari, Myanmar, Thai, Inggris dan lain-lain.

1. Pengertian Abhidhamma

Abhidhamma berasal dari istilah Pali yang secara etimologinya terdiri dari dua kata yaitu Abhi yang berarti tinggi, agung, luhur, luas, dan Dhamma yang berarti kebenaran atau ajaran kebenaran dari Sang Buddha. Jadi Abhidhamma berarti ajaran yang luhur, agung, atau tinggi dari Sang Buddha. Dalam kitab ulasan Atthasalini, Buddhaghosa Thera menjelaskan bahwa kata sifat Abhi secara harafiah berarti melebihi, melampaui, dan mengungguli. Dhamma dalam Sutta Piaka adalah ajaran biasa (Vohara desana) dan banyak menggunakan istilah-istilah konvensional, seperti manusia, binatang, benda-benda dan sebagainya. Sedangkan Abhidhamma adalah ajaran tertinggi (paramatha desana), maka segala sesuatunya dianalisis secara teliti dan digunakan istilah-istilah yang analitis seperti kelompok kehidupan (khandha), unsur (dhatu), landasan (ayatana) bahkan jalan pembebasan diterangkan dengan kata yang terang, jelas, dan tepat.
Sebagai ajaran tertinggi Abhidhamma memungkinkan seseorang untuk mencapai pembebasan mutlak dari semua bentuk penderitaan, karena Abhidhamma berguna untuk mengembangkan pandangan terang (Vipassana bhavana). Tetapi tidak pula dikatakan bahwa Abhidhamma mutlak atau sangat perlu untuk mencapai kebebasan, pengertian dan pencapaian kebebasan semata-mata tergantung pada diri sendiri. Dikatakan bahwa Empat Kesunyataan Mulia yang merupakan landasan ajaran Sang Buddha terdapat dalam diri masing-masing manusia. Dhamma tidak terlepas dari diri manusia sendiri; manusia perlu mencari ke dalam diri mereka sendiri dan kebenaran akan tampak.
Dari Sutta dijelaskan bahwa terdapat orang-orang yang mencapai pencerahan tanpa mengenal Abhidhamma terlebih dahulu, seperti:
·   lima orang Bhikkhu yang kemudian dikenal sebagai Pancavagiya (Kondaña, Vappa, Bhaddiya Mahanama dan Assaji) mampu mencapai kesucian setelah mendengar khotbah Sang Buddha, yaitu pemutaran Roda Dhamma (Dhammacakkappavattana Sutta).
·   Upatisa yang kemudian dikenal sebagai Y.A. Sariputta mencapai Sotappana hanya mendengar setengah bait "Hubungan Kausal" yang diajarkan oleh Y.A. Assaji, padahal waktu itu Ia belum belajar Abhidhamma.
·   Patacara, seorang ibu yang sedang bersedih karena kehilangan orang yang paling dekat dan paling disayang olehnya mampu mencapai pembebasan melalui perenungan pada air yang membasahi kakinya atas nasihat Sang Buddha.
·   Culapantaka, seorang yang tidak mampu menghapal sebait syair dalam waktu kurang lebih satu vassa, mencapai kearahatan dengan mengamati proses "Ketidak kekalan" yaitu dengan cara memandang sehelai sapu tangan yang bersih di bawah terik matahari.

2. Pembabaran Abhidhamma

Dikatakan bahwa Abhidhamma sesungguhnya kekal abadi; ia berada dalam alam semesta yang sangat luas ini, hanya suatu keika Abhidhamma itu dilupakan oleh para Brahma, dewa dan manusia, pada saat itulah muncul Sammasambuddha yang akan mengajarkan Abhidhamma kepada mahluk-mahluk. Mahluk-mahluk seperti Savaka Buddha, Arahat, dan ariya Puggala tidak mampu mengajarkan Abhidhamma bila tidak belajar atau mendengar ajaran Abhidhamma.
Para Attakathacariya pernah menjelaskan dalam Paticcasamuppadavibhagathakatha sebagai berikut:
AYAM ABHIDHAMO NAMA NA ADHUNO KATONAPI BAHIRAKA ISIHIVA DEWATAHI VA BHASITO SABBANNUJINABHASITO PANA AYAM.
Artinya: Abhidhamma bukan hanya muncul dalam zaman sekarang ini saja, para resi (pertapa atau orang suci) atau dewa tidak mampu mengajarkan Abhidhamma (jika tidak belajar). Hanya Sammasambhuda saja yang dapat mengajarkannya.
Dalam kitab Ulasan atas Dhammapada, Khudaka Nikaya, kitab Ulasan Udana, dan Ulasan Itivuttaka dapat dijumpai data historis kisah berkenaan dengan Abhidhamma sebagai berikut:
·   pada minggu keempat setelah pencapaian penerangan sempurna Sang Buddha berdiam di kamar batu permata yang diciptakannya dan bermeditasi mengenai Abhidhamma.
·   Tahun ketujuh setelah pencapaian penerangan sempurna selama satu vassa Sang Buddha mengunjungi surga Tavatimsa dan memberikan pelajaran Abhidhamma kepada dewi Maya dan pada dewa secara terperinci (Vittharanaya).
·   Pada kesempatan yang sama (Vassa) Ia mengajarkan kepada Y.A. Sariputta di hutan kayu cendana secara singkat (Sankhepanaya).
·   Y.A. Sariputta mengajarkan Abhidhamma kepada siswanya secara setengah ringkas dan setengah rinci (athivitharananatisankhepanaya) atas wewenang dari Sang Buddha untuk mengajarkan Abhidhamma kepada siswa-siswanya. Akhirnya Abhidhamma menjadi topik yang menarik di antara siswa Sang Buddha, termasuk Ananda Thera.
·   Pada Sangha Samaya Ketiga di Pataliputta diulanglah Abhidhamma Pitaka oleh Y.A. Kassapa Thera. Dan selanjutnya pada Sangha samaya keempat di Aluvihara secara resmi ditulis dalam sebuah kitab Tipitaka.

Tujuh Kitab Abhidhamma Piaka

1.Kitab Dhammasangani yang secara harafiah berarti penggolongan Dhamma yang terbagi dalam empat bab. Kitab ini berisi tentang perincian paramatha dhamma yang terbagi dalam empat bab sebagai berikut;Cittupada kanda, berisikan tentag kesadaran dan satuan-satuan yang menyertainya (cetasika)
;Rupa kanda, menguraikan tentang jasmani (materi/rupa);Nikkhepa kanda, berisi ringkasan; danAtthuddhara karida, menguraikan tentang penjelasan pandangan singkat mengenai bab-bab terdahulu.Buku ini menjelaskan pula tentang 22 tikamatika (kelompok 3) dan 100 duka matika (kelompok 2) yang berisikan tentang intisari dari abhidhamma. Sebagian besar menguraikan tentang tiga yang pertama dari kelompok tiga yaitu tentang kusala dhamma, akusala dhamma, dan abhyakatha dhamma. Kitab ini tercakup didalamnya 13 bhanavana (1 bhanavara = 250 syair, 1 syair = 4 baris, 1 baris = 8 huruf dewanagari, maka 1 bhanavara terdiri dari 8000 huruf dewanagari). Oleh sebab itu buku ini terdiri kurang lebih 104.000 huruf dewanagari.
Untuk mengetahui secara garis besar bila kita tinjau dari bab per bab adalah sebagai berikut:
Cittii padakanda (kesadaran dan satuan-satuan yang menyertainya)
Bab ini menguraikan beberapa hal sebagai berikut:
Kesadaran yang menyenangkan/menyehatkan,Kesadaran yang tidak menyenangkan/tidak menyehatkan,Keadaan-keadaan karmis netral

Rupa kanda(kejasmanian)

Bab ini merupakan satu tambahan dari bagian tiga yang berurusan dengan keadaan-keadaan yang netral. Seperti contoh ; berkenaan dengan semua keadaan yang netral, dan tidak hanya mengenai kejasmanian sebagai berikut: ”fenomena manakah karmis yang netral ? akibat-akibat karma yang tergolong pada lingkungan materi halus dan pada lingkungan tanpa materi atau pada lokuttara yang terdiri dari perasaan, pencerapan indra, dll, lebih jauh fungsi-fungsi kirya yang karmis netral...... lebih jauh. Semua rupa maupun unsur yang tak tercipta (nibbana) semua barang-barang ini adalah karmis netral. Semua rupa adalah empar unsur primer yang fisikal dan fenomena fisikal sekunder yang diturunkan daripada primer".Hal yang berkenaan dengan semua rupa dan uraian terpisah kejasmanian.
Uraian masalah kejasmanian ini diuraikan dalam judul tunggal sampai sebelas judul.

Nikkhepakanda (ringkasan)

Bab ini berisikan suatu penjelasan lengkap dari istilah-istilah dalam abhidhamma dan sutta dan disusun dengan rencana-rencana itu dimulai dengan penjelasan abhidhamma sebagai berikut:
Fenomena manakah adalah karmis yang menyehatkan (kusala) ?
Tiga akar dari karma yang menyehatkan (kusala hetu) adalah : tanpa keserakahan, tanpa kebencian, dan tanpa kekhayalan dan bentuk-bentuk batin yang mengikuti, lebih jauh semua karma badaniah, ucapan dan batin yang berakar dari ketiga hal tersebut.
Tiga akar dari karma yang tidak menyehatkan meliputi .........
Fenomena yang netral meliputi......
Disusul dengan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena yang disertai perasaan gembira dll.

Atthuddhara kanda (pandangan singkat)

Bab ini juga sering dikenal dengan bab penjelasan singkat, dalam bab ini hanya berkaitan dengan penjelasan abhidhamma tetapi lebih ringkas. Contoh; fenomena manakah adalah karma menyehatkan ?. Semua yang menyehatkan dalam empat tingkat kesadaran. Fenomena manakah yang karma tidak menyehatkan dua belas kesadaran yang tidak menyehatkan.
2.Kitab Vibhanga menguraikan tentang pemilahan paramatha Dhamma yang terdapat dalam Dhammasangani dan terdiri dari delapan belas bab. Buku kedua dari abhidhamma pitaka yakni vibhanga, terdiri dari satu seri dari 18 risalat, atau vibhanga semuanya lengkap dalam diri mereka sendiri dan tidak tergantung pada yang lainnya. Tiap risalat biasanya terdiri dari 3 bagian: penjelasan secara sutta, penjelasan secara abhidhamma, dan satu bagian Tanya jawab. Oleh karenanya 3 risalat pertamanya vibhanga dalam satu ukuran tertentu adalah merupakan satu tambahan pada dhammasanghani, sekalian merupakan satu fondasi untuk dhatu katha. Tiga risalat itu sementara tertuju pada satu penyelidikan dari tiga golongan yang terpenting untuk mendapatkan pengertian sejati dari pada falsafah Buddhis, yaitu :
15 kelompok daripada kehidupan (khanda) ,12 landasan (ayatana), dan18 unsur psyco fisikal (dhatu), sehubungan dengan tiga aspek mana di dalam dhatu katha semua fenomena dari kehidupan dihubungkan dan dihubungkan. Disamping itu tiga golongan tersebut membentuk pokok-pokok dari 3 bab pertama dari yamaka, sedangkan di dalam puggala pannati 3 golongan itu mendahului daftar dari isinya (matika), Banyak pasal-pasal di dalam vibhanga juga terdapat dalam patisambhidamagga dari kbuddaka nikaya, ia mempunyai rupa yang sama, baik dalam isinya maupun dalam susunannya dan kedua buku itu sering ditunjukkan dan dikutip di dalam visudhi magga.
3.Kitab Dhatukatha menguraikan tentang pemaparan unsur-unsur yang terdiri dari empat belas bab. Dhatu katha terdiri dari 14 bab yang beratus-ratus pertanyaan dan jawaban. Judul yang lengkap seharusnya adalah khanda-ayatana-dhatu-katha”. yaitu perbincangan berkenaan dengan penunjukkan pada kelompok-kelompok, landasan-landasan, dan unsur-unsur. Dhatu katha dibagi dalam 14 bab, yaitu:
Termasuk-an dan ketidak-termasuk-an
Termasuk dan tidak-termasuk
Tidak-termasuk dan termasuk
Termasuk dan termasuk
Tidak-termasuk dan tidak-termasuk
Kumpulan dan lepas-dari-kumpulan
Berkumpul dan tidak berkumpul
Tidak-berkumpul dan berkumpul
Berkumpul dan berkumpul
Tidak-berkumpul dan tidak-berkumpul
Berkumpul-dengan dan lepas-dari-berkumpul, yang-termasuk
Termasuk dan tidak-termasuk di dalam yang-berkumpul
Berkumpul-dengan, lepas-berkumpul-dari, yang-tidak-termasuk
Termasuk dan tidak-termasuk di dalam yang-lepas-dari-berkumpul

Di sini harus dicatat bahwa dalam abhidhamma istilah "berkumpul” (sampayutta) adalah khusus disediakau untuk fenomena batin saja, yaitu untuk mereka yang bercampur dalam satu saat kesadaran tunggal. Istilah itu tidak bisa digunakan untuk susunan dari fenomena materi ataupun untuk hubungan-hubungan mereka pada proses-proses atau faktor-faktor batin.

Empat belas judul-judul yang telah disebut terdahulu itu membentuk bagian pertama daripada cetakan atau rencana dengan mana dhatu katha dimulai. Dalam bagian kedua daripadanya, ditunjukkan fenomena, fenomena mana adalah pokok dari pertanyaan mengenai ke-ikut-sertaan mereka, dll, di dalam unsur-unsur dll. Mereka itu pertama-tama terdiri dari 125 fenomena, yaitu :
5 kelompok-kelompok dari kehidupan (khanda),12 landasan-landasan (ayatana)
8 unsur-unsur (dhatu) ,4 kebenaran-kebenaran (sacca),22 kemampuan (indriya)
12 (rangkaian dari) asal mula yang bergantung (paticcasamuppada),4 fondasi dari kewaspadaan,4 usaha benar (sammapadana),4 jalan pada kekuatan (iddhipada),4 pencerapan,4 keadaan yang tidak terbatas,5 kemampuan batin (indriya) ,5 kekuatan-kekuatan (bala),7 faktor-faktor dari penerangan batin (bojjhanga),8 (faktor-faktor dari) jalan,Kesan indera (phassa),Perasaan (vedana) Kesadaran (citta),Pencerapan-indera (sanna), Tekad (adhimokkha),Kemauan-pikiran (cetana),dan Keperhatian

Disertakainya sebagai tambahan kepertigaan dan keperduaan diantara pokok-pokok dari pemeriksaan ditunjukkan dalam cetakan itu oleh satu kalimat tunggal : "juga, seluruh dhammasangani itu (tergolong pada cetakan dari dhatu-katha". Seperti dapat dilihat dari kutipan berikut ini, pertanyaan-pertanyaan dijawab masing-masing dalam tekad hanya dengan mengatakan berapa banyak kelompok-kelompok, dll, didapati di dalam hal masing-masing dimana nampak perlu, identifikasi daripada kelompok-kelompok itu, dll, dengan nama, telah ditambahkan dalam kurungan oleh pengarang. Dalam beberapa hal tidaklah mudah untuk mendapatkan suatu jawaban yang konkrit pada pertanyaan-pertanyaan yang rumit itu. Dalam kenyataannya, dhatu katha. yamaka dan bagian tanya jawab dari vibhanga, adalah suatu ujian yang sangat keras untuk pemikiran logika dan analistis dan untuk keahlian dalam mempergunakan istilah-istilah doktrinal yang fondamentil yang menjadi pokok bahan daripada risalat-risalat itu.
4.Kitab Puggalapañatti menguraikan tentang penjelasan berbagai jenis orang yang terdiri dari 10 bab. Buku ini, terkecil daripada buku-buku abhidhamma. nampak agak tidak pada tempatnya di dalam abhidhamma pitaka, seperti diperlihatkan oleh bahkan judulnya "uraian daripada perorangan". Karena adalah ciri utama daripada abhidhamma bahwa ia tidak memakai konsepsi-konsepsi biasa seperti "perorangan", dll, tapi berurusan hanya dengan yang terakhir atau kebenaran-kebenaran dalam "arti tertinggi" (paramatha dhamma), yaitu fenomena batiniah dan materi dan penggolongan-penggolongan mereka ke dalam kelompok-kelompok (khanda), landasan-landasan, unsur-unsur dll. Namun risalat ini sesuai dengan mata pokoknya di tulis dalam bahasa biasa seperti dipergunakan didalam sutta-pitaka. Pada kenyataannya sebagian besar daripada isinya mempunyai kesejajaran bahasa di dalam anguttara nikaya dan sangiti sutta dari digha nikaya.Risalat itu dihantarkan dengan satu cetakan dan pasalnya yang pertama menunjukkan satu alasan biasa untuk diikut sertakan buku ini di dalam abhidhamma pitaka. Cetakan itu mulai dengan menomori enam macam ”uraian” (pannati); uraian dari kelompok-kelompok (khandha-pannatti), dari landasan-landasan, unsur-unsur dari kebenaran-kebenaran, dari kemampuan-kemampuan, dan akhimya dari perorangan-perorangan (puggala pannatti). Lima yang pertama itu tentunya jatuh pada lapangan abhidhamma dan mungkin telah menyebabkan termasuknya risalat itu ke dalam abhidhamma pitaka. Lima cara itu namun hanya muncul dalam cetakan itu hal mana hanya menambahkan pembagian mereka masing-masing ke dalam kelompok kejasmanian dll. Disitu tidak terdapat pengolahan dari mereka itu dengan terperinci di dalam tubuh utama daripada buku itu. Sebagai alasan untuk ketinggalan itu, komentar menyebutkan bahwa bahan pokok daripada. lima uraian-uraian itu telah di olah dengan perincian lengkap di dalam bab masing-masing dari vibhanga.Cetakan itu kini berjalan untuk memberikan penjudulan-penjudulan untuk ”uraian daripada perorangan-perorangan". Uraian ini membagi kedalam 10 bab-bab, darimana yang pertama berurusan dengan perorangan-perorangan tunggal, yang kedua dengan pasangan-pasangan, ketiga dengan kelompok-kelompok dari tiga, dst sampai deagan penggolongan sepuluh kali ganda. Sepuluh bab itu berisikan 142 pengelompokan dari perorangan-perorangan dengan 386 peroranaan-perorangan tunggal nanum juga sebagian melompat. Pengungkapan yang terperinci yang menyusul cetakan itu mempunyai bagian-bagian yang sama. la beri tidak hanya definisi-definisi singkat daripada berbagai jenis manusia, tapi juga beberapa keterangan-keterangan yang agak panjang dan sejumlah perumpamaan yang luas dan indah. Terpisah dari penggolongan-penggolongan perorangan-perorangan secara etik, sejumlah besar istilah-istilah spesifik ajaran yang penting berkenaan dengan jenis-jenis manusia, juga diterangkan di sini, dan juga diantara mereka itu termasuk yang relatif jarang terjadi.

Dari itu, buku yang kecil ini membentuk satu manual atau pedoman yang akan terbukti sangat penting dalam mempelajari ajaran-ajaran Buddha.

(1,9) "Orang manakah adalah satu ”makhluk dunia”(putthujjana)?

Seseorang yang belum meninggalkan 3 belenggu (dari kejahatan- diri, ketidakpercayaan, keyakinan dalam aturan-aturan dan upacara-upacara), dan juga belum berada di atas jalan meninggalkan akan barang-barang itu, orang sedemikian itu disebut satu makliluk dunia.

(1.19) "Yang manakah orang yang "mencapai dua ujungnya dengan berbareng"? - la adalah seseorang di dalam diri-siapa, ujung daripada kecondongan-kecondongan (asava) dan ujung daripada kehidupan terjadi pada saat yang sama".

(1.20) "Yang manakah adalah orang yang "bisa menghentikan satu kehancuran dunia" (thitakappi)? - la adalah satu orang yang berada di atas jalan merealisir pembuahan daripada pemasukan-aliran. Maka, jika saat pembakaran dari dunia telah tiba, tata dunia itu tidak akan dimakan api sebelumnya orang itu telah merealisir pembuahan daripada pemasukan-aliran. Juga semua orang-orang yang telah mencapai pada (satu dari tingkat-tingkat lainnya) jalan-jalan adalah sedemikian yang bisa menghentikan atau menahan satu kehancuran dunia.
5.Kitab Kathavathu menguraikan tentang pokok-pokok pertentangan dalam bentuk tanya jawab yang terdiri dari dua puluh tiga bab. Buku ini dipertalikan pada tetua Moggali-putta-tissa yang menurut tradisi yang telah menyusun buku ini sebagai risalat polemik terhadap kelompok-kelompok viharawan, atau aliran-aliran yang terdapat pada abad ketiga sebelum kristus dan melafalnya dengan dewan ketiga di Pataliputta yang sekarang dikenal sebagai Patna, dewan mana telah dipanggil berkumpul oleh Raja Asoka pada tahun kira-kira 246 sebelum kristus.Singkatnya ini adalah apa yang komentar atas karya ini memberikan tahu pada kita akan sejarah dari sekte-sekte itu yang agak membingungkan dan yang masih belum terpecahkan : seratus tahun setelah meninggalnya Sang Buddha apa yang di sebut para Bhikkhu dari Vajji-puttaka menyarankan perlunakan dari peraturan-peraturan sangha dan mereka mendirikan sekte maha sanghika, darimana timbul 5 sekte lain dari pada abad kedua setelah meniggalnya sang Buddha, dengan mana menjadikan 6 sekte semuanya. Sekte asli dari Buddhisme, sebab itu diulangi oleh 500 Thera, atau tetua-tetua seketika setelah kematian Sang Buddha, yang disebut Theravada, sebelas sekte menarik diri terpenting diantara mereka itu adalah Sarvastivada. Dengan demikian menjadikan dua belas sekte semuanya. Abad ke dua setelah Sang Buddha yaitu abad ketiga sebelum kristus, kita dapati sama sekalinya 18 sekte yang berbeda-beda., 17 darimana dianggap sebagai perpecahan oleh para theravadin dan hanya Theravada itu sendiri yang berpendirian menurut adat (orthodok).Menurut abad kuno dari Srilanka, kitab-kitab mahavamsa, dan dipavamsa, semua para Vajji putaka itu bukanlah pendiri daripada sekte mahasanghika, akan tetapi adalah bhikkhu-bhikkhu yang telah dikeluarkan dari masyarakat bhikkhu-bhikkhu dan mahasanghika atau pengikut-pengikut dari dewan agung telah muncul (sesuai dengan tradisi utara dari Vasumitra dan Bhvya) tanpa bergantung pada para Vajji puttaka yang lagi berfigur sebagai tunas daripada Theravada Menurut tradisi selatan. para mahasanghika. merubah dan memalsukan sutta dari vinaya, dan membuat-membuat sejumlah sutta-sutta yang mereka sebarkan sebagai kata dari Sang Buddha.Raja Asoka memperlihatkan penghargaan besar pada Buddhisme dan bhikkhu-bhikkhu Buddhis, maka banyak guru-guru dan pengikut-pengikut dari kepercayaan lain mencari-cari memasuki sangha, ataupun diam-diam menggunakan jubah kuning, pada mereka itu pada masih meneruskan pandangan-pandangan upacara-upacara keagamaan mereka, seperti pemujaan api dan matahari, dsb. Berkali-kali percobaan dan usaha-usaha untuk memecahkan keadaan-keadaan yang kacau daripada ke-bhikkhuan buddhis, akhirnya Raja Asoka memanggil dan melangsungkan dewan agung di Pattali Putta, dimana seluruh kanon diulangi dari Moggalitissa ini di masukkan ke dalam abhidhammapitaka.Kathavatthu berisikan 219 pertentangan-pertentangan yang dibagi kedalam 23 bab. Di situ tidak terdapat perencanaan yang jelas dalam hal pengelompokkan-pengelompokkan pertentangan-pertentangan itu, ataupun berkenaan dengan mata pokok mereka, mengenai sekte-sekte yang berkaitan itu. Keseluruhan itu nampak agaknya telah bertumbuh berangsur-angsur, sehingga berdasarkan sebab ini seseorang akan ragu-ragu untuk mempertalikan seluruh karyanya itu pada satu pengarang tunggal. Tetapi kenyataan bahwa sebagian dari, pendapat-pendapat para pemecah-pemecah itu dipertalikan pada sekte-sekte yang timbul berapa abad kemudian, maka saja menganggap sebagian bukti positip bahwa Moggaliputtatisa tidak mungkin adalah satu-satunya daripada pengarang buku itu.Sejumlah besar dari spekulasi itu menuturkan sesungguhnya pada hal-hal yang sangat kecil dan sering adalah hanya satu pihak, ataupun menyesatkan, dan semuanya itu hampir dapat diusut kembali pada pengertian yang salah atau tidak tepat, pada pemakaian yang serampangan daripada istilah-istilah teknis, daripada ucapan-ucapan yang terlogis dari sekte-sekte perpecahan yang dipertalikan pada pendapat-pendapat yang diolah dalam karya ini. Sekte-sekte itu sebenanya ada pada jaman Asoka, dan dari mereka itu, lagi hanya tiga yang disebut sekali saja dan satu disebut dua kali.
6.Yamaka menguraikan pemaparan paramatha dhamma secara berpasangan yang terdiri dari sepuluh bab. Rhys Davids dalam mukadimah dari buku edisinya teks pali; dengan agak kurang tepat, memunakan buku ini serta sepuluh babnya sehagai ”sepuluh lembah dari tulang-tulang kering” dan menyatakan bahwa satu-safunya kesempatan yang mungkin daripada buku ini adalah untuk keperluan:Tempat penunjukkan.Sebagai satu perbendaharaan daripada istilah-istilah, darimana seorang guru dapat memilih-milih, akan tetapi tidaklah buku ini dapat dianggap sebagai satu karya yang sesuai untuk bacaan ataupun untuk lafalan.Padaku nampaknya seakan-akan buku ini telah digubah untuk keperluan ujian ataupun untuk kemahiran dalam menjawab akan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat-buat atau pertanyaan-pertanyaan yang berarti dobel, ataupun pertanyaan-pertanyaan mengkritik atau semua ejaan-ejaan yang berlipat ganda, dan latihan-latihan teknis dari falsafah Buddhis. Soal-soal dari identitas, sub-ordinat dan koordinat dari konsepsi-konsepsi memegang peranan utama dalam pekerjaan kita dalam usaha memberi satu penjelasan yang logis serta pembatasan dari semua konsepsi-konsepsi ajaran berkenaan dengan jarak dan isi mereka. Buku ini adalah suatu karya dari logika yang terterapkan, seperti juga adanya katha vathu, dsb. Kebanyakan dari buku ini bermain-main atas kata-kata, walaupun diucapkan dalam nada keagungan dari logika namun terkadang tampak agak aneh.Bahwa buku ini disebut ”pasansan-pasangan (yamaka), sangatlah mungkin dikarenakan pengelompokan yang dobel atas mutu pertanyaan dan perumusan pembicaraannya yang dipasang sejajar tetap dari permulaan sampai ke ujung. Seluruh buku ini dalam edisi bahasa muangthai meliputi dua jilid besar yang terdiri dari 1394 lembar, yang dibagi ke dalam 10 bab dari pasangan-pasangan pertanyaan-pertanyaan, dan tiap bab membentuk satu pemeriksaan ke dalam fenomena-fenomena. dengan menunjukkan mereka itu pada satu golongan khusus.Mula yamaka menunjukkan segala sesuatu pada/menjahatkan ”akar-akar”, tidak menyehatkan dan netral.Khanda yamaka, pada lima kelompok dari kehidupan / pengadaan:Ayatana yamaka, pada 21 landasan-landasan;Dhatu yamaka, pada 18 unsur dari kehidupan psiko fisikal;
Sacca yamaka, pada 4 kebenaran mulia;Sankhara yamaka, pada formasi-formasi badaniah, lisan dan batin; Anusaya yamaka, 7 kecondongan-kecondongan yang jahat;Citta yamaka, pada kesadaran;Dhamma yamaka, yang pada istilah dhamma ”fenomena”;Indriya yamaka, pada 22 kemampuan- kemampuan jasmaniah dan batiniah.
Cara yang digunakan dalam sebagian besar dari 10 bab – bab itu adalah dimana-mana, kurang lebih sama sejauh golongan yang bersangkutan itu mengijinkan.
Penetapan Batas Dari Istilah- istilah
Penomeran dari pada pertanyaan
Dalam bentuk positif
Dalam bentuk negatif
Istilah- istilah umum dan khusus dalam bentuk positif
Istilah- istilah umum dan khusus dalam bentuk negatif dsb.
Penjelasan- Penjelasan (nidassa-vara)
Dengan pembagian sama dengan (I)
Proses (Pavatti-vara)
Asal Mula (Upadda-vara)
Sekarang : berkenaan dengan orang
Sekarang : berkenaan dengan tempat – dalam bentuk positif
Sekarang : berkenaan dengan orang dan tempat
Sama dengan diatas dalam bentuk negatif
Lampau : pengolahan sama seperti untuk sekarang
Penghentian (nirodha-vara)
Bersamaan pengolahan seperti (I)
Asal-mula dan penghentian
Bersamaan pengolahan seperti (I)
Penembusan (Parinna-vara)
Berkenaan dengan pengolahan seperti B (I), tapi hanya berkenaan dengan orang (tidak dengan tempat, dlsbg).
7.Pathana menguraikan tentang duapuluh empat ketergantungan ( paccaya ). Buku raksasa dan yang terpenting dari Abhidhamma-pitaka ini berurusan dengan penentuan dan sifat tergantung daripada fenomena kehidupan jasmaniah dan batiniah yang berlipat ganda itu, yang dalam kombinasi- kombinasi mereka itu dikenal dengan nama-nama biasa seperti ’aku, ’orang’, ’dunia’, dsb. Tetapi dalam arti terakhir, mereka itu adalah hanya fenomena yang berlalu itu, lain tidak. Maka, buku ini menyajikan satu penjelasan yang terlengkap dan terperinci dari pada patticca samupada atau asal yang tergantung walaupun disini fenomena itu tidak disusun menurut 12 rangkaian dari pada patticca samupada, tetapi berkenaan dengan 24 paccaya, yakni, keadaan- keadaan atau cara-cara dari penentuan, seperti akan dapat dilihat kelak.
Tekat terhadap dari pada buku ini di dalam edisi bahasa muangthai meliputi 6 jilid yang terdiri dari 3.120 pagina, sedangkan ringkasannya itu di dalam bahasa pali Text Society berisi hanya 549 pagina.
Buku ini mulai dengna satu pengantar yang berisikan penomeran dan penjelasan dari 24 cara-cara dari penentuan (paccaya) yang memerintah akan semua fenomena dari kehidupan yang berlipat-lipat ganda itu. Tubuh utama dari buku ini mempunyai 4 pembagian-pembagian besar, yaitu :
Anuloma-patthana, asal mula menurut metode positif
Paccaniya-patthana, asal mula menurut metode negatif
Anuloma-paccaniya-patthana, asal mula menurut metode positif-negatif
Paccaniya-anuloma-patthana, asal mula menurut metode negatif-positif
Dalam setiap pembagian dari 4 pembagian utama itu, 24 cara dari penentuan dipergunakan dalam urutan pada semua fenomena dari kehidupan, dihaturkan pula dengan kepertigaan dan keperduaan dari pada rencana abhidhmma. Masing-masing dari 4 bagian utama itu dipergunakan cara khusus (yakni, positif) dalam cara yang enam kali ganda

3. Pengertian Abhidhammathasangaha

Abhidhammathasangaha berasal dari bahasa pali yang terdiri atas lima kata, yaitu abhi : yang berarti halus/tinggi, Dhamma yang berarti kebenaran atau pelajaran dari Sang buddha, attha yang berarti intisari, san yang berarti singkatan, dan gaha yang berarti gabungan, jadi Abhidhammathasangaha berarti singkatan dari gabungan intisari Abhidhamma Pitaka. Abhidhammathasangaha berisikan pelajaran mengenai citta ( kesadaran ), cetasika ( bentuk-bentuk batin ), rupa ( materi ), dan nibbana ( nirvana ). Buku Abhidhammathasangaha ditulis oleh Ven Anurudhacariya Maha Thera pada tahun 357 S. M atau 900 BE. Abhidhammathasangaha sangat penting untuk dipelajari, karena merupakan pokok dasar Abhidhamma. Umat buddha yang ingin mempelajari Abhidhamma Pitaka untuk mendapat pengertian yang baik harus mempelajari Abhidhammathasangaha terlebih dahulu.
4. Citta
Citta berasal dari kata Citti yang berarti berpikir. Menurut Abhidhamma, citta berarti kesadaran akan suatu obyek atau sesuatu yang sadar terhadap obyek. Sinonimnya adalah ceta, citupada, nama, mana dan Viññana. Bila suatu makhluk dibagi menjadi dua, yaitu nama ( batin ) yang digunakan. Tetapi jika dibagi menjadi lima kelompok kehidupan ( pancakkhandha ) digunakan istilah Viññana atau kesadaran. Istilah Citta digunakan dalam hubungannya dengan berbagai tingkat kesadaran. Pada dasarnya tidak ada perbedaaan antara batin dengan kesadaran. Ada pernyataan dalam bahasa pali sebagai berikut : “ Aramanam cintetiti cittan “ yang artinya “ Keadaan yang mengetahui obyek, yaitu menerima obyek selalu “ keadaan itu disebut kesadaran atau pikiran. Citta atau kesadaran itu akan muncul dalam diri kita bilamana ada indera kita yang mencerap obyek dari luar. Menurut sifat atau keadaan, bahwa kesadaran atau pikiran itu adalah “ keadaan yang mengetahui obyek “ saja, maka kesadaran itu hanya satu. Tetapi bila ditinjau menurut keadaan yang diketahui dan bagian yang diketahui maka Citta itu ada banyak. Yaitu mengetahui dalam hal keinginan yang baik atau yang tidak baik, mengetahui dalam hal Rupa jhana ( jhana berbentuk ), mengetahui dalam hal arupajjhana (jhana tak berbentuk), atau mengetahui dalam hal Nibbana. Jadi bila kesadaran / pikiran itu dihitung secara terperinci maka ada 89121 macam / tipe kesadaran. Dalam jumlah tersebut diatas citta atau kesadaran dapat dikelompokkan menjadi empat bagian :
1.Kamavacara citta : terdiri dari 54 tipe kesadaran, yaitu kesadaran atau pikiran yang bergetar atau berkelana di Kamma Bhumi / kammaloka sebelas ( 11 alam kamma ), atau sering dikenal dengan tipe kesadaran yang berkenaan dengan alam indria. Tipe kesadaran / pikiran ini terbagi menjadi tiga bagian yang meliputi :
o Akusala Citta, yang terdiri atas dua belas tipe kesadaran / pikiran tidak baik atau amoral karena timbul dari lobha ( keserakahan ), dosa ( kebencian ), dan moha ( kebodohan batin ).
o Ahetuka Citta, yang terdiri atas 18 tipe kesadaran / pikiran yang tidak bersekutu dengan sebab atau hetu karena kesadaran atau pikiran ini merupakan hasil atau akibat dari perbuatan-perbuatan masa lampau.
o Kammavacara sobhana citta, yang terdiri atas 24 tipe kesadaran atau pikiran baik, yang berkelana di alam kama bhumi.
2.Rūpavacara citta, terdiri dari 15 tipe kesadaran, yaitu kesadaran yang mencapai obyek dari Rupajjhana atau kesadaran / pikiran yang berkelana di Rupa Bhumi ( alam berbentuk ).
3.Arūpavacara Citta, terdiri dari 12 tipe kesadaran atau pikiran yang mencapai obyek dari Arupajjhana ( Kesadaran pikiran yang berkenaan dengan alam Arupa ).
4.Lokuttara Citta, terdiri dari 840 tipe kesadaran / pikiran, yaitu kesadaran / pikiran diluar tiga dunia ( kesadaran / pikiran diatas duniawi ).
5. Cetasika
Cetasika atau bentuk-bentuk batin adalah keadaan yang bersekutu dengan citta. Gejala yang bersekutu dengan citta disebut “ Cetoyuttalakkhana “ yaitu keadaan yang bersekutu dengan citta disertai sifat 4 macam yaitu :
1.      Ekuppada, yang berarti timbulnya bersama dengan citta.
2.      Ekaniroda, yang berarti padamnya bersama dengan citta.
3.      Akalambana, yang berarti mempunyai obyek yang sama dengan citta.
4.      Ekavatthuka, yang berarti pemakaian obyek sama dengan citta. Karena setiap jenis cetasika mempunyai sifat yang tidak sama, maka terdapat 52 jenis cetasika, yang terbagi atas tiga bagian, yaitu :
o    Aññasamana cetasika, berarti bentuk-bentuk batin yang sama keadaannya yang dapat bersekutu dengan semua tipe kesadaran / pikiran yang baik danjahat, yang terdiri atas 13 macam.
o    Akusala cetasika, berarti bentuk-bentuk batin yang jahat. Cetasika ini merupakan bentuk-bentuk batin yang membentuk semua kejadian yang tidak baik dari kesadaran / pikiran, yang semuanya berjumlah 14 macam.
o    Sobhana cetasika, berarti bentuk-bentuk batin yang baik, disebut demikian karena cetasika ini umumnya dibagi keseluruhan menjadi moral yang baik dari kesadaran / pikiran. Cetasika ini muncul dala
6. Rûpa
Rûpa adalah suatu keadaan yang dapat bercerai berai atau berubah padam dengan kedinginan dan kepanasan. Rupa sering diterjemahkan dengan materi, bentuk-bentuk, tubuh dan sebagainya. Rupa / jasmani setiap makhluk itu pada hakekatnya akan timbul karena adanya 4 macam kebutuhan ( 4 paccaya ), yang meliputi :
1.Kamma atau karma yaitu perbuatan atau kehendak yang baik maupun yang tidak baik. Jika perbuatan baik yang lebih banyak dilakukan, maka jasmani yang terbentuk tentu akan normal tidak ada cacatnya, juga akan cantik dan tampan, serta selalu sehat. Tetapi jika perbuatan tidak baik yang lebih banyak dilakukan maka jasmani yang terbentuk umumnya tidak normal.
2.Citta / pikiran. Jika pikiran kita selalu tenang, damai maka akan tercetus dalam wajah yang ceria, murah senyum, maka wajah kita akan cerah. Namun jika pikiran kita selalu kacau maka yang tampak terutama wajah kita akan cemberut atau marah, maka wajah kita akan kelihatan tidak cantik atau tampan dan mudah cepat tua.
3.Utu atau temperatur suhu. Jika kita tinggal di daerah tropis, maka kulit kita umumnya akan hitam / gelap. Tetapi jika kita berada di daerah dingin maka umumnya kulit kita akan berwarna putih atau kuning langsat.
4.Ahara atau makanan. Jika kita selalu makan makanan yang penuh gizi, maka jasmani kita akan tumbuh dengan baik dan sehat. Tetapi jika kita selalu makan makanan yang kurang bergizi, maka jasmani yang terbentuk juga kurang baik dan kurang sehat. Menurut Abhidhamma, rupa atua jasmani dapat dikupas secara singkat menjadi 28 unsur yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu :
o Mahabhûtarupa, yang terdiri dari empat unsur dan merupakan materi dasar yang besar.
o Upadayarûpa, yang terbagi atas 24 macam, yang berarti materi yang berasal dari Mahabhutarupa.
7. Nibbana
Kata Nibbana berasal dari kata “Ni” dan “Vana”, Ni berarti tidak, vana berarti menenun atau menginginkan, yang berfungsi sebagai tali untuk menghubungkan rangkaian kehidupan dari makhluk hidup dalam pengembaraannya ( samsara ). Selama seseorang terjerat keinginan atau kemelakatan, ia akan menumpuk kekuatan kamma yang segar / baru yang harus diwujudkan dalam satu bentuk didalam lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada putusnya. Bila semua keinginan telah termusnahkan, kekuatan kamma akan berhenti bekerja, dan seseorang dikatakan mencapai Nibbana, terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada putusnya. kata Nibbana juga dari kata ni dan va yang berarti meniup. Dalam hal ini nibbana berarti tertiup padamnya atau musnahnya api nafsu kebencian, dan ketidaktahuan. Secara instrinsik ( sabhavato ) nibbana adalah kedamaian ( santi ) dan unik ( kevala ). Nibbana merupakan suatu kenyataan mutlak ( vattudhamma ) yang diatas duniawi ( lokuttara ). Nibbana merupakan Arupadhamma, yaitu dhamma yang bukan rupa, dan disebut pula nama dhamma, disebut pula kala vimuti karena terbebas dari kala tiga ( atita, paccupana, dan anagata ), dan merupakan asankhatadhamma ( keadaan yang tidak bersyarat ). Selain itu Nibbana diartikan sebagai suatu keadaan yang terbebas dari tanha. Nibbana yang menjadi tujuan terakhir dari umat Buddha secara garis besar dapat dibedakan menjadi : Nibbana 2 yaitu :
1.Saupadisesa Nibbana : padamnya kilesa secara total, tetapi masih ada pancakkhandha.
2.Anupadisesa Nibbana : padamnya kilesa secara total dan juga padamnya pancakkhandha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar